Alasan Bagyo Rival Gibran Nunggak Tagihan PDAM: Kesulitan Ekonomi

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 20:28 WIB
Cawalkot Independen Solo Bagyo
Bagyo Wahyono. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo -

Calon Wali Kota Solo nomor urut 2, Bagyo Wahyono, menunggak tagihan air PDAM sampai Rp 25 juta. Bagyo beralasan tunggakan terjadi karena dirinya menghadapi masalah ekonomi.

Seperti diketahui, Bagyo dikenal sebagai penjahit. Dia memiliki usaha pembuatan baju dengan sejumlah pegawai.

Bagyo mengaku tidak pernah berniat menunggak tagihan. Namun ada kepentingan lain yang mendadak.

"Namanya wong cilik, memang kesulitan ekonomi. Karena saya dahulukan untuk yang urgen. Pegawai saya butuh untuk makan keluarganya, saya dahulukan, untuk sekolah anak pegawai saya, tiba-tiba anaknya masuk rumah sakit, apa saya tega?" kata Bagyo, saat dijumpai wartawan di kawasan Laweyan, Jumat (30/10/2020).

Meski membenarkan adanya tunggakan, Bagyo mengaku yakin tagihannya tak sebesar itu. Pihaknya masih akan mengecek kembali data dari Perumda Toya Wening.

"Mestinya tidak sebesar itu. Kita nggak bisa kalau membayar sebesar itu, harus sedikit-sedikit. Nanti kita kroscek lagi," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Seksi Penertiban Perumda Toya Wening, Bayu Tunggul Pamilih, mengatakan Bagyo terdaftar memiliki dua rekening. Pertama atas nama istrinya, lalu kedua atas nama dirinya sendiri.

"Awalnya atas nama istri. Karena menunggak sekitar Rp 14 juta, maka kita tutup total. Lalu yang bersangkutan mengajukan atas nama sendiri. Seharusnya tidak boleh, tapi kecolongan," kata Bayu saat dihubungi detikcom, Jumat (30/10).

Setelah dicek ternyata berkasus, badan usaha milik daerah (BUMD) itu kembali menutup akses air di rumah Bagyo. Tunggakan Bagyo ditambah dengan istrinya total menjadi Rp 25 juta untuk 33 bulan.

"Karena lokasi dan alamatnya sama, maka kita hitung jadi satu. Total Rp 25 juta," ujar Bayu.

Untuk penanganan kasus Bagyo dan pelanggan lain dengan tunggakan lebih dari Rp 10 juta, Perumda Toya Wening Solo bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri Solo.

"Kami memiliki nota kesepahaman dengan kejaksaan dalam hal penanganan pelanggan yang menunggak lebih dari Rp 10 juta. Ada banyak yang seperti itu. Sudah ada 88 orang yang dipanggil kejaksaan," ujar dia.

(rih/mbr)