Drone Jatuh di Candi Borobudur

Eko Susanto - detikNews
Selasa, 27 Okt 2020 21:01 WIB
Suasana Candi Borobudur sepi karena adanya pembatasan pengunjung mulai hari ini, Senin (16/3) sampai Minggu (29/3). Pengunjung pun hanya bisa melihat kemegahan bangunan itu dari bawah di luar pagar zona 1.
Candi Borobudur, Senin (16/3/2020). (Foto: Eko Susanto/detikcom)
Magelang -

Sebuah drone jatuh di Candi Borobudur. Balai Konservasi Borobudur (BKB) menyebut peristiwa itu tak mengakibatkan kerusakan pada candi.

Saat dimintai konfirmasi, Kepala BKB Wiwit Kasiyati membenarkan kejadian adanya drone yang jatuh di kawasan Candi Borobudur. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (20/10) siang.

"Benar telah terjadi jatuhnya pesawat drone di kawasan Candi Borobudur pada tanggal 20 Oktober 2020 pukul 12.28 WIB," kata Wiwit kepada detikcom melalui pesan WhatsApp, Selasa (27/10/2020).

Wiwit menjelaskan, petugas BKB telah melakukan pemeriksaan terkait peristiwa drone jatuh di Candi Borobudur itu. Pemeriksaan dilakukan terhadap pada candi maupun pihak yang menerbangkan drone itu.

"Petugas BKB telah melakukan pemeriksaan baik terhadap pada candi maupun terhadap personel yang menerbangkan," jelasnya.

Hasil pemeriksaan sementara, lanjutnya, tidak ditemukan kerusakan pada struktur Candi Borobudur.

"Dan hingga saat ini tidak ditemukan kerusakan atau vandalism yang disengaja oleh personel dimaksud," ungkap Wiwit.

Terpisah, Pemerhati dan Praktisi Kebijakan Heritage (Warisan Budaya), Johannes Marbun, menanggapi peristiwa drone jatuh di Candi Borobudur tersebut. Marbun mengaku mendapat informasi peristiwa itu terjadi pada Selasa (20/10) siang.

"Posisi jatuhnya berdasarkan informasi yang saya dapatkan ada di area lantai 7," kata Marbun saat dihubungi.

Marbun mendesak BKB agar menjelaskan secara jelas dan terbuka terkait kronologis kejadiannya.

"Jadi ini sebenarnya isu yang menarik dalam konteks Borobudur. Pertama menariknya, Borobudur itu masuk sebagai warisan dunia sehingga standar-standar pengamanan maupun keamanan dari Borobudur itu juga mengacu pada standar-standar yang diakui oleh masyarakat internasional. Yang kedua, pemerintah sendiri sudah meratifikasi konvensi, makanya Borobudur bisa didaftarkan sebagai warisan dunia," ujarnya.

Menurutnya, keberadaan Candi Borobudur sebagai destinasi prioritas nasional, maka pengelolaan dan penerapan aturan harus mematuhi standar-standar yang ada.

"Borobudur juga menjadi destinasi prioritas nasional yang disampaikan oleh pemerintah RI dan itu menjadi sebuah konsen atau perhatian dari pemerintah pusat. Sehingga isu-isu destinasi super prioritas nasional ini juga harus mematuhi standar-standar yang ada. Dalam konteks ini otoritas Borobudur, BKB itu harus menyampaikan kepada publik kronologis yang sebenarnya," katanya.

Dalam kejadian tersebut, katanya, jika ada dugaan unsur kelalaian atau human error, harus disampaikan kepada publik.

"Termasuk juga dugaan-dugaan unsur kelalaian atau human error atau kesalahan teknis atau apa itu harus disampaikan ke publik. Kenapa, karena Borobudur itu sudah memiliki standar-standar pengamanan termasuk persoalan drone," ujar Marbun.

Menyinggung soal acara yang berlangsung saat jatuhnya drone tersebut, kata Marbun, berdasarkan informasi yang diperolehnya adalah gelaran acara yang bertujuan untuk edukasi.

"Belum terlalu mendapatkan informasi yang jelas, tapi saya dapatkan informasinya itu sebenarnya untuk edukasi. Untuk tujuan edukasi," ujarnya.

(rih/mbr)