Ratusan Ribu Pisau Cukur Impor Palsu Diamankan Bea Cukai di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 15:35 WIB
Kepala KPP Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Emas, Anton Martin dan Nararya Soeprapto selaku Direktur PT P&G Home Products Indonesia menunjukkan pisau cukur yang diduga tiruan. Foto diambil Senin (26/10/2020).
Kepala KPP Bea Cukai Tanjung Emas Anton Martin dan Direktur PT P&G Home Products Indonesia Nararya menunjukkan pisau cukur yang diduga palsu. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang -

Bea Cukai mengamankan produk impor ratusan ribu pisau cukur bermerek Gillette yang diduga palsu. Pihak PT Procter & Gamble (P&G) sebagai produsen merek tersebut meminta temuan itu diusut.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan (KPP) Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Emas, Anton Martin, mengatakan pihaknya menyita 390 ribu tangkai cukur dan 521.280 pisau cukur. Barang-barang itu dikemas dalam 185 kotak karton.

"Bea Cukai menggagalkan upaya pemasukan barang impor tiruan yang diduga melanggar Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI)," kata Anton dalam konferensi pers di Tempat Penimbunan Pabean Bea Cukai Tanjung Emas, Semarang, Senin (26/10/2020).

"Ada 185 karton berisi alat cukur merek Gillette. Ditemukan 7 Oktober 2020 yang diimpor oleh PT LBA dari China," imbuhnya.

Anton menerangkan informasi soal temuan tersebut lalu diberitahukan ke pihak PT P&G. Sehingga selain pencegahan, pihak perusahaan juga melakukan penangguhan sementara ke Pengadilan Niaga Semarang.

"Pada tanggal 19 Oktober 2020, Pengadilan Niaga Semarang mengabulkan permohonan penangguhan sementara tersebut dan ditindaklanjuti oleh right holder dengan mengajukan jadwal pemeriksaan fisik bersama kepada Bea Cukai Tanjung Emas," jelas Anton.

Anton menyebut penindakan ini merupakan kerja sama dengan pihak PT P&G Home Product Indonesia selaku pemegang merek. Terlebih perusahaan PT P&G ini sudah terdaftar dalam sistem CEISA (Customs Excise Integrated System and Automation) Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

"Dengan adanya sistem ini, Bea Cukai segera memberikan notifikasi kepada right holder apabila terjadi dugaan importasi atau eksportasi barang yang melanggar HKI," terangnya.

Sementara itu, Direktur PT P&G Home Products Indonesia, Nararya Soeprapto, menyebutkan ciri produk alat cukur itu diduga palsu. Dia antaranya pengiriman kepala dan gagang pisau yang dikemas dalam kardus terpisah dan tanpa merek.

"Kalau lihat boks itu kami tidak pernah jual dalam bentuk boks seperti itu. Produk kami selalu rapi dan dalam plastik. Beberapa hal lain, kami hanya dari satu pelabuhan kalau ada masuk dari pelabuhan lain kami minta tolong Bea Cukai notifikasi. Kalau dilihat tulisannya ini agak blur," jelas Nararya.

Nararya menduga produk tersebut sudah beredar di toko-toko dan pasar yang ada di Indonesia beberapa tahun ini. Pihaknya pun masih menghitung estimasi kerugian akibat produk palsu tersebut.

"Peredarannya sudah wilayah Indonesia cukup luas, sudah masuk toko khususnya di pasar-pasar. Kalau kami pantau sekitar 4 tahun lalu," ucapnya.

Di lokasi yang sama, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Semarang Andreas Purwantyo Setiadi mengatakan saat ini proses di Pengadilan Niaga masih berlangsung. Sidang dengan agenda putusan akan digelar pekan depan.

"Apa yang kita dapatkan, apa yang kita lihat, apa yang apa yang kita periksa akan putuskan pada sidang di pengadilan, dilaksanakan hari Senin 2 November 2020," kata Andreas.

(ams/rih)