Potensi Tsunami 20 Meter Bukan Prediksi, Pakar UGM Jelaskan Bedanya

Pradito Rida Pertana - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 11:28 WIB
Ilustrasi gempa
Ilustrasi gempa bumi. (Foto: AFP)
Yogyakarta -

Pakar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Gayatri Indah Marliyani menilai masyarakat tidak perlu panik menyikapi kajian penelitian terkait potensi gempa besar yang bisa menyebabkan tsunami 20 meter di selatan Jawa. Dia menjelaskan hasil studi itu berupa skenario gempa dan tsunami yang berupa potensi bukan prediksi. Lalu apa bedanya?

"Untuk menjadi prediksi, informasi yang disampaikan harus meliputi waktu, besaran magnitudo dan lokasi kejadian. Potensi terjadinya tsunami memang ada di selatan Jawa, tapi kapan terjadinya kita belum tahu," katanya melalui keterangan tertulis kepada wartawan dari Humas UGM, Selasa (29/9/2020).

Meski kajian penelitian mengungkap potensi tersebut, menurut Gayatri, masyarakat diharapkan tidak perlu panik. Menurutnya, skenario yang disampaikan tidak serta merta memberikan informasi kejadian gempa dan tsunami di selatan Jawa akan terjadi besok atau lusa.

Menurutnya, hingga saat ini masih belum ada teknologi yang terbukti bisa melakukan prediksi dengan akurasi tinggi. Upaya penting yang bisa dilakukan masyarakat adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi segala bencana yang mungkin terjadi, termasuk bencana gempa bumi dan tsunami.

Misal terjadi tsunami, lanjut Gayatri, setidaknya masyarakat harus mengetahui harus ke mana. Jika berada di tepi pantai, lantas merasakan gempa besar dan melihat air laut surut maka harus segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang tinggi seperti bukit atau gedung-gedung yang tinggi.

"Jika berada jauh dari pantai (<20 km), atau berada pada daerah dengan ketinggian lebih dari 30 m dari permukaan laut, tidak perlu khawatir, tsunami tidak akan mencapai area tersebut," ucapnya.

Gayatri mengakui riset-riset terkait dengan prediksi gempa bumi mulai dikembangkan lebih serius dengan berbagai pendekatan. Di antaranya dengan analisis seismisitas, gangguan pada gelombang eletromagnetik, adanya anomali emisi gas radon serta perubahan muka air tanah.

Berbagai parameter mulai dimonitor di lokasi-lokasi yang dicurigai aktif secara tektonik oleh beberapa peneliti untuk mengetahui adanya keterkaitan antara pola anomali dan kejadian gempa bumi. Beberapa keterbatasan dalam menerapkan metode-metode ini antara lain sensor harus berada dekat dengan sumber gempa bumi dan yang terpenting adalah melakukan validasi data secara global.

"Sampai saat ini penelitian mengenai prediksi gempa bumi dengan pendekatan-pendekatan ini masih belum menghasilkan prediksi yang secara konsisten memberikan korelasi yang positif. Untuk bisa dikatakan indikatif maka hasil pantauan harus secara statistik menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara kejadian dan anomali," ujarnya.

Menurut Gayatri yang juga perlu diketahui di daerah subduksi aktif seperti di Sumatera dan Jawa, gempa dengan magnitudo kecil-sedang (

"Meski begitu studi tentang prediksi gempa bumi ini layak untuk terus dilakukan, sebab jika berhasil akan memberikan kemaslahatan sangat besar bagi kehidupan manusia," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2