Sejarawan Bicara Interpretasi Soal Mitos Ratu Kidul Rekam Peristiwa Tsunami

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 18:54 WIB
Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)
Foto: Lukisan Ratu Kidul (Sumber: Situs Kemdikbud)

Peneliti paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bernama Eko Yulianto adalah orang yang menemukan hal ini. Dia memadukan catatan geologi dengan karya sastra Jawa masa lalu untuk menemukan catatan mengenai peristiwa tsunami besar di era silam.

"Kesimpulan saya, mitos Ratu Kidul muncul berkaitan dengan peristiwa gempa dan tsunami 400 tahun lalu," kata Eko kepada detikcom, Jumat (25/8).

Di mana mitos Ratu Kidul berkaitan dengan narasi legendaris soal pendiri Kesultanan Mataram, Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati (1584-1601).

Babad Tanah Jawi disikapinya bukan murni sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai produk politik. Di dalamnya, ada kisah yang menjadi landasan legitimasi politik, bahwa Sutawijaya adalah orang yang sah untuk menjadi raja.

Narasi itu seolah menepis kenyataan bahwa Sutawijaya bukan darah biru, melainkan anak angkat Raja Pajang Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Dengan narasi itu, masyarakat Jawa bagian selatan yang agraris (petani) menjadi yakin akan kepemimpinan rajanya. Di masa modern, mitos-mitos masih sering digunakan sebagai landasan legitimasi politik, misalnya capres X, cagub Y, atau calon bupati Z adalah keturunan raja-raja di masa silam.

"Babad Tanah Jawa bagi saya adalah wujud kecerdasan politik, sosial, dan budaya," kata Eko.

Meski demikian, meski sifatnya bukan 100% sejarah, kisah-kisah mitologis itu menuntun Eko ke arah yang lebih jauh. Mitos itu menyimpan peristiwa penting di masa lalu, yakni tsunami 400 tahun lalu.

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, Sutawijaya meminta bantuan Ratu Kidul untuk membangun kerajaan Mataram yang berbasis di Alas Mentaok, di masa selanjutnya berubah menjadi Kota Gede, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam waktu yang bersamaan, rekan Sutawijaya bernama Ki Juru Martani juga meminta bantuan penguasa Merapi untuk membangun kerajaan Mataram. Praktis, legitimasi mitologis didapat dari Samudera sekaligus Gunung Berapi.

Halaman

(rih/rih)