Mengenang The Sin Nio, Pejuang Wanita yang 'Telantar' di Hari Tua

Uje Hartono - detikNews
Senin, 17 Agu 2020 21:12 WIB
The Sin Nio, pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa asal Wonosobo
The Sin Nio (Foto: Istimewa)
Semua itu dilakukan Sin Nio untuk memperjuangkan haknya sebagai veteran. Dia hingga harus memperjuangkan sendirian status tersebut di Jakarta, meninggalkan kampung halamannya. Bertahun-tahun dia terlunta-lunta di Jakarta. Dia baru diakui sebagai veteran sekitar 3 tahun sebelum meninggal dunia. Setelah usahanya berhasil, dia sudah tak mau kembali ke Wonosobo.

Setelah meninggal dunia, The Sin Nio dimakamkan di pemakaman layur Rawamangun. Kerabat di Wonosobo mengaku tidak mengetahui pasti apakah saat ini makamnya masih terlacak di pemakaman tersebut.

The Sin Nio, pejuang kemerdekaan dari etnis Tionghoa asal WonosoboSK Veteran The Sin Nio dengan nama Mochamad Moeksin. (Foto: Istimewa)

Pasalnya, ahli waris harus membayar Rp 100 ribu per tiga tahun. Padahal menurut sepengetahuannya, saat ini anak-anaknya semua sudah meninggal dunia.

"Karena ada aturan harus bayar Rp 100 ribu 3 tahun sekali. Dan setahu saya anaknya itu ada 3, di Wonosobo, Gombong dan Yogyakarta. Semuanya sudah meninggal dunia. Hanya ada anak mantu yang masih hidup yakni di Wonosobo dan di Gombong," jelasnya.

Sebelum meninggal dunia, The Sin Nio ini juga menolak ajakan untuk hidup bersama anak-anaknya. Ia memilih hidup seorang diri di Jakarta. "Hidup bersama anak-anaknya juga tidak mau. Paling hanya mengunjungi keponakannya yang ada di Jakarta. Sedangkan suaminya sudah meninggal dunia lebih dulu," tuturnya.


(mbr/mbr)