Namanya Dicatut, UNU Yogyakarta Kaji Polisikan Dosen Swinger

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 17:58 WIB
Pihak Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta jumpa pers soal kasus pelecehan seksual berkedok riset swinger, Selasa (4/8/2020).
Pihak Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta jumpa pers soal kasus pelecehan seksual berkedok riset swinger, Selasa (4/8/2020). (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Yogyakarta -

Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta belum memutuskan untuk melanjutkan kasus pencatutan nama kampus yang dilakukan oleh Bambang Arianto ke ranah hukum. UNU masih mengumpulkan bukti yang dapat dijadikan dasar untuk membuat laporan terkait Bambang mencatut nama untuk pelecehan seksual berkedok riset perilaku swinger itu.

"Kita akan kumpulkan data-data. Kalau nanti diperlukan dan memang layak untuk kita bawa (ranah hukum) ya kita akan bawa. Apakah ini memang ada aspek hukum yang bisa dipersoalkan," kata Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNU Yogyakarta, Muhammad Mustafid saat menggelar konferensi pers di Kampus UNU Yogyakarta, Selasa (4/8/2020).

Namun, yang menjadi keputusan oleh pihak kampus yaitu dengan tegas menyatakan menutup pintu untuk Bambang. Hal itu lantaran Bambang mencatut nama UNU untuk melancarkan aksinya.

"Tidak, tidak (menerima). Tertutup seribu persen," tegasnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan status Bambang bukanlah dosen di UNU. Namun, hanya sebagai pengajar tamu. Bahkan sejak tahun 2018 jasanya tidak dipakai lagi oleh UNU.

"Bahwa yang bersangkutan bukanlah dosen UNU Yogyakarta seperti banyak diberitakan oleh beberapa media. Memang yang bersangkutan pernah membantu pada 2017 hingga awal 2018 sebagai dosen tamu untuk materi kepenulisan dan literasi sesuai dengan bidang keahlian yang bersangkutan," urainya.

Salah satu faktor yang membuat UNU tidak menggunakan jasa Bambang sejak 2018 lantaran yang bersangkutan saat itu tersandung masalah serupa. Korbannya, beberapa anggota Fatayat NU yang juga sudah melapor ke pihak kampus.

"Ada laporan dari teman Fatayat NU bahwa yang bersangkutan melakukan itu (mengirim pesan berisi melecehkan) kemudian dilaporkan rektorat dan kami telusuri dan ternyata benar. Jadi setelah itu tidak kami pakai lagi," ungkapnya.

Atas perbuatan yang dilakukan oleh Bambang, pihak UNU merasa dirugikan. Oleh karenanya, kampus berharap dengan terbukanya kasus Bambang ini bisa mengakhiri aksi pelecehan seksual yang dilakukan pelaku.

"Kami sangat berharap dengan kasus ini, track record pelaku yang ternyata sangat panjang itu bisa berakhir dengan munculnya, dengan ter-blow up-nya kasus ini," paparnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2