Cerita Eks TKI yang Kini Jadi Konsultan, Bermimpi Cetak Petani Milenial

Arbi Anugrah - detikNews
Minggu, 19 Jul 2020 00:31 WIB
Cerita eks TKI asal Banyumas yang kini jadi konsultan pertanian
Foto: Cerita eks TKI asal Banyumas yang kini jadi konsultan pertanian (Arbi/detikcom)
Banyumas -

Anton Supriyono (40) pernah terbelit utang hingga merantau menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Namun, kini dia menjadi salah satu konsultan pertanian sukses yang punya mimpi mencetak banyak petani milenial.

Anton sempat merantau bersama istrinya Eni Anggraeni ke Malaysia pada 2009 silam. Keduanya lalu bekerja di sebuah perusahaan hortikultura di Pahang, Malaysia.

Anton dan istrinya bekerja dengan warga negara lainnya seperti dari India, Senegal, Kamboja, Laos dan beberapa rekan dari Indonesia. Dari perusahaan itu, Anton belajar menanam melon, tomat, kobis, dan cabai.

"Usaha saya tidak bisa jalan dan terbelit hutang dan jalan satu satunya keluar dari kampung. Saat keluar negeri sama istri bekerja dalam satu perusahaan. Posisi saya saat itu tenaga kerja paling kasar paling bawah, saya bagian pengairan kalau istri bagian pengepakan di perusahaan holtikultura yang berada di Cameron Highland, Pahang, Malaysia," kata Anton saat berbincang dengan detikcom, Kamis (16/7/2020).

Pria lulusan SMK itu lalu belajar pemupukan, tata cara tanam di perusahaan tersebut. Hingga akhirnya dia mendapat kesempatan membantu para profesor pertanian asal China, Filipina, dan Amerika yang direkrut perusahaan untuk menangani kualitas tanaman.

"Saat itu saya bagian vital bagian pengairan, karena bagian vital hanya diarahkan untuk anak-anak Indonesia. Kebetulan saya orang Indonesia yang lainnya orang Nepal, Myanmar, tulisan mereka tulisan negara masing-masing, bukan bahasa latin dan orang Indonesia bisa baca tulisan latin," jelasnya.

"Di situ akhirnya saya dipilih, orang Indonesia yang bisa baca. Akhirnya saya pegang semuanya mulai dari masalah nutrisi, obat, cara tanam, jenis tanaman sampai mulai takaran-takarannya dan lain-lain dari situ akhirnya saya belajar," kenangnya.

Anton pun belajar secara otodidak soal ramuan nutrisi untuk tanaman yang kerap layu sebelum panen besar. Seiring berjalannya waktu, Anton memutuskan kembali ke Indonesia. Upahnya bekerja selama 4,5 tahun di negeri jiran dia gunakan untuk melunasi utangnya.

Namun, tak lama berada di Indonesia Anton dan istrinya mulai gelisah karena kesulitan mencari pekerjaan di Indonesia. Dia dan istrinya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Malaysia dan bekerja di perusahaan yang sama.

Saat kembali ke Malaysia, perusahaan hortikultura tersebut tengah panen besar. Namun tanaman tomat itu dilanda layu hebat, tiga orang profesor pun gagal menangani permasalahan itu. Dia lalu mencoba meramu nutrisi untuk tanaman tomat itu. Tak disangka, ramuannya itu mujarab. Tanaman tomat yang layu serta tanaman lain yang sudah waktunya panen pun siap dipetik.

"Tomat yang tadinya dengan metode profesor (mampu panen) 3 ton. Setelah menggunakan metode saya, dua kali lipat lebih (panen), per dua hari sekali panen," cetusnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3