Kemarau Datang, Petani di Klaten Curhat Harus Beli Elpiji untuk Pompa Air

Achmad Syauqi - detikNews
Senin, 13 Jul 2020 13:15 WIB
Para petani menggunakan tabung gas 3 kg untuk bahan bakar diesel pompa air
Foto: Para petani menggunakan tabung gas 3 kg untuk bahan bakar diesel pompa air (Achmad Syauqi/detikcom)
Klaten -

Datangnya musim kemarau mulai membuat petani padi di Klaten resah karena kekurangan air. Para petani di beberapa daerah mulai menggunakan gas bersubsidi 3 kg atau gas melon untuk bahan bakar diesel pompa air.

"Sudah seminggu ini tidak ada air dari mata air Ponggok, Kecamatan Polanharjo. Hujan sudah tidak ada, jadi pakai gas agar irit," kata petani warga Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Suradi saat ditemui detikcom di sawahnya, Senin (13/7/2020).

Suradi mengaku lebih irit menggunakan gas. Sebab satu tabung bisa digunakan hingga 5-7 jam, sedangkan satu liter pertalite hanya bisa satu jam menyedot air.

"Kalau dengan pertalite hanya satu jam padahal harganya sekitar Rp 7 ribuan, kalau 5 jam sudah Rp 35 ribu. Dengan gas hanya Rp 20 ribu," terang Suradi.

Suradi mengaku belum ada bantuan pemerintah terkait kesulitan air ini. Menurutnya, para petani merogoh kocek sendiri, padahal tahun lalu diinformasikan ada bantuan gas melon.

"Katanya ada bantuan tapi sampai saat ini belum pernah ada. Gas ya beli sendiri," imbuh Suradi.

Hal senada disampaikan warga Desa Tarubasan, Kecamatan Karanganom, Purwanto. Dia mengaku menggunakan gas melon agar bisa menghemat biaya di masa pandemi virus Corona.

"Kalau pakai gas melon bisa tujuh jam tapi jika dengan pertalite atau solar bisa lebih mahal sebab satu liter hanya untuk satu jam. Uangnya bisa untuk kebutuhan lain di tengah COVID saat ini," kata Purwanto.

Selanjutnya
Halaman
1 2