ADVERTISEMENT

3 Tersangka Tragedi Susur Sungai SMPN 1 Turi Jalani Sidang Perdana

Jauh Hari Wawan S - detikNews
Senin, 15 Jun 2020 19:52 WIB
Sidang perdana tragedi susur sungai SMPN 1 Turi, Sleman, Senin (15/6/2020).
Sidang perdana tragedi susur sungai SMPN 1 Turi, Sleman, Senin (15/6/2020). (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Sleman -

Kasus tragedi susur Sungai Sempor, Sleman yang mengakibatkan 10 siswa SMPN 1 Turi tewas memasuki sidang perdana. Tiga orang diajukan sebagai terdakwa, yakni berinisial IYA (36), RY (58), dan DDS (58).

Dalam sidang yang dilakukan secara virtual karena pandemi virus Corona (COVID-19), majelis hakim yang diketuai Annas Mustaqim bersama jaksa penuntut umum (JPU) dan penasihat hukum para terdakwa berada di Pengadilan Negeri (PN) Sleman. Sementara itu, ketiga terdakwa berada di Polres Sleman.

Jaksa penuntut umum (JPU) Yogi Rahardjo mengungkapkan kegiatan susur sungai merupakan salah satu ekstrakurikuler di SMPN 1 Turi. Peserta susur sungai yaitu siswa kelas VII dan VIII. Kegiatan itu telah diprogramkan tahun ajaran 2019/2020.

"Kegiatan susur sungai itu dilaksanakan pada 21 Februari 2020 pukul 13.30 WIB di sungai Sempor yang dipimpin IYA, RY dan DDS selaku pembina Pramuka. Susur sungai itu diikuti sekitar 249 siswa kelas VII dan VII," kata Yogi saat sidang di PN Sleman, Senin (15/6/2020).

Yogi menuturkan kegiatan susur sungai merupakan kegiatan yang berbahaya dan penuh risiko bagi keselamatan jiwa pesertanya. Namun, terdakwa, kata dia, tidak melakukan survei lokasi dan meminta izin ke pengurus setempat terlebih dahulu.

"Seharusnya para terdakwa selaku pembina pramuka melakukan survei lokasi, minta izin ke Kamabigus, orang tua siswa, TNI/Polri dan SAR. Kemudian menyiapkan peralatan seperti tali, ban bekas, tongkat," katanya.

"Selain itu perlu menyiapkan alat keselamatan yaitu pelampung dan perahu kecil, serta alat komunikasi dan alat kesehatan," lanjutnya.

Yogi menyebut pada saat kegiatan berlangsung, cuaca di lokasi mendung dan hujan. Lalu sekitar pukul 15.00 WIB, para siswa mulai turun menyusuri sungai. Awalnya berjalan lancar dan sebagian regu sudah sampai finish dan ada yang naik jembatan. Namun, tiba-tiba datang air sangat deras menerjang para siswa yang berada di sungai.

"Para terdakwa tidak mempertimbangkan dari segi alat, segi petugas dan cuaca," paparnya.

Dalam dakwaan yang dibacakan JPU, para terdakwa diduga melakukan kelalaian. Untuk itu para terdakwa didakwa dengan Pasal 359 KUHP dan 360 (2) KUHP Jo Pasal 55 (1) ke-1 KUHP.

"Atas peristiwa itu, sebanyak 10 siswa SMPN 1 Turi meninggal dunia. Atas kejadian itu, para terdakwa didakwa melanggar Pasal 359 KUHP dan 360 (2) KUHP Jo Pasal 55 (1) ke-1 KUHP," tegasnya.

Sementara itu, kuasa hukum terdakwa DDS, Safiudin mengaku tidak akan mengajukan eksepsi atas surat dakwaan JPU. Pihaknya akan memperjuangkan sejauh mana tanggung jawab terdakwa dalam kegiatan susur sungai.

"Kami tidak mengajukan eksepsi. Terdakwa ini bertugas di garis finish dan mengambil foto siswa. Saat mengetahui kejadian tersebut, terdakwa langsung turun dan menolong siswa," kata Safiudin.

Diketahui, tragedi susur sungai SMPN 1 Turi, Sleman terjadi pada Jumat 21 Februari 2020. Peristiwa nahas itu terjadi saat 249 siswa SMPN 1 Turi tengah mengikuti ekstrakurikuler Pramuka dengan kegiatan susur sungai di Sungai Sempor, Donokerto, Turi. Di tengah kegiatan, arus sungai tiba-tiba deras dan membuat para peserta hanyut. Sebanyak 10 siswi tewas dalam peristiwa tersebut.

Polres Sleman kemudian menetapkan tiga pembina Pramuka dalam kegiatan susur sungai SMPN 1 Turi itu sebagai tersangka, yakni berinisial IYA, RY dan DDS.

(rih/rih)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT