Surati Jokowi, Pakar Pendidikan Taman Siswa Usul Tahun Ajaran Baru Diundur

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kamis, 28 Mei 2020 15:26 WIB
Poster
Ilustrasi. (Foto: Edi Wahyono)
Yogyakarta -

Seorang pengurus Persatuan Keluarga Besar Taman Siswa (PKBTS) di Yogyakarta menyurati Presiden Joko Widodo (Jokowi), meminta agar pembukaan tahun ajaran baru diundur hingga Januari 2021. Pembukaan tahun ajaran baru pada bulan Juli 2020 dinilai berdampak pada perekonomian orang tua murid di tengah pandemi virus Corona atau COVID-19.

Pengurus PKBTS di Yogyakarta, Ki Darmaningtyas membenarkan jika dirinya yang membuat surat tersebut. Penundaan itu, kata Darmaningtyas karena saat ini banyak orang tua yang secara ekonomi dan psikologis rapuh akibat terkena PHK dan tutupnya usaha mereka.

"Ya yang pasti orang tua itu kan saat ini dalam kondisi rapuh, terutama yang menengah ke bawah. Rapuhnya itu karena mereka kehilangan pekerjaan," katanya kepada detikcom, Kamis (28/5/2020).

"Nah, jadi kalau dipaksa mereka harus memasukkan anaknya sekolah saat ini bisa tambah stres. Wong mikirin kerjaan saja belum dapat harus mikirin anak sekolah, apalagi untuk memasukkan anak sekolah butuh biaya banyak," lanjut Darmaningtyas.

Menurutnya, kondisi tersebut juga berpengaruh besar terhadap kerapuhan psikologi anak. Apalagi, dia menilai kondisi ekonomi dan psikologis masyarakat 1,5 bulan ke depan masih amat rapuh. Sehingga kurang mendukung untuk memikirkan pencarian sekolah baru, membayar uang sekolah dan kuliah.

Dia menyebut, memang tak ada SPP untuk MTs N dan ada Kartu Indonesia Pintar Kuliah untuk masuk PTN. Namun, menurutnya perlu diingat bahwa SPP hanya 25 persen dari total kebutuhan bersekolah.

Kemudian 75 persen sisanya, kata Darmaningtyas, justru kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti pembelian buku pelajaran, buku tulis, pakaian seragam, sepatu, tas, uang transportasi, uang jajan dan iuran lainnya. Ditambah lagi, menurutnya ada 75 persen SMK swasta yang siswanya tak sedikit kondisi ekonominya tidak mampu.

Sehingga bila mereka dipaksa sekolah pada bulan Juli 2020, lanjutnya, boleh jadi warga justru memilih tidak menyekolahkan anaknya.

"Kalau pandemi (COVID-19) berakhir usaha-usaha itu kan akhir tahun baru mulai tumbuh, itu baru mulai. Jadi maksud saya biarkan masyarakat dalam enam bulan ke depan ini fokus memulihkan ekonominya, terutama kelas menengah ke bawah. Karena yang mau masuk SMK itu kan menengah ke bawah," ucapnya.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2