Ini Isi Ukiran di Prasasti Keraton Agung Sejagat Menurut Sang 'Empu'

Pradito Rida Pertana - detikNews
Rabu, 22 Jan 2020 22:18 WIB
Prasasti di Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (22/1/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Purworejo -

Pemahat prasasti Keraton Agung Sejagat, M Ngimron Soleh (46) mengaku hanya mendapat tugas untuk mengukir batu sesuai gambar dari 'Raja' Toto Santoso. Menurutnya, kalimat yang ia ukir pada batu itu adalah desain Toto.

"Saya di Keraton Agung Sejagat sebagai Empu Wijoyo Guno yang ditugasi Toto untuk memahat batu. Jadi Toto hanya memberi gambar terus saya pahat," kata Ngimron saat ditemui di Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Rabu (22/1/2020).

Ngimron menjelaskan, batu itu adalah batu gunung yang berasal dari Desa Plipiran, Kecamatan Bruno, Purworejo. Proses pemahatan memakan waktu hingga dua pekan.

"Untuk memahat ya saya dibantu beberapa orang, dan memahatnya itu mulai dari awal sampai pertengahan Desember (2019)," ujarnya.

Untuk kalimat yang diukir pada prasasti, Ngimron menyebut berasal dari dekrit ciptaan 'Raja' Toto yang berisi tentang pengambilalihan kekuasaan oleh bumi Rakai Mataram Agung Joyokusumo wangsa Sanjaya dengan gelar Sri Ratu Indratanaya Hayuningrat wangsa Sailendra sebagai Pharaoh Dinasti XXXVII Penguasa Kekaisaran (2018 AC - ....) Periode Nusantara (Atlantic - Sundaland) IV.

Ini Isi Ukiran di Prasasti Keraton Agung Sejagat Menurut Sang 'Empu'Prasasti di Keraton Agung Sejagat di Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (22/1/2020). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Berdasarkan dekrit kaisar yang Agung dari Keraton Agung Sejagat yang berbunyi:

Iki minangka tanda samparan suku awatara Sang Hyang Bhatara Wisnu Sang Hyang Bhatara Siwa, Nggih samparan suku Ratu Agung Sejagat Rakai Mataram Agung Joyokusumo wangsa Sanjaya, Sri Ratu Indratanaya Hayuningrat wangsa Sailendra kang ngratoni jagat kabeh ingkang mengku, Ratu dibya ambeg adil paramartha, sudibyo apari karma, alus sabaranging budhi, ratu agagah prakoso, tan ana kang malanga.

Parang muka samya teluk pan sami ajrih sedaya, apeparap pangeraning prang, pan wus wenang anggempur kang dora cara, tumpes tapis tan na manga, amrih kertaning nagara. Harjaning jagat sedaya, mumpuni sakabehing laku, wasis wagig waskita, balane samya jrih sejagat, agegaman trisula wedha, nglurug tanpa wedya bala.

Yen menang tan ngasorake liyan, kono ana pangapura, ajeg kukum lawan adil, mulya jenenging narpati, tan na dursila durjana, padha mertobat nalangas, wedi walating nata, adil asing paramartha, para kawula pada suka-suka, merga adiling pangeran wis teka, ratune nyembah kawula.

Angagem trisula wedha, momongane kaki sabdopalon sing wus adu wirang nanging kondhang, genaha kacetha kanthi njingglang, nora ana wong ngersula kurang, tandane jaman kalabendu wis minger, centi wektu jejering kalamukti andayani indering jagat raya, padha asung bhekti, gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem kerto raharjo.

Sedangkan dalam bahasa Indonesia, dekrit itu berbunyi sebagai berikut:

Ini adalah tanda sepasang telapak kaki titisan Dewa Wisnu dan Dewa Siwa, sepasang telapak kaki milik Rakai Mataram Agung Joyokusumo wangsa sanjaya, sri ratu indratanaya Hayuningrat wangsa Sailendra yang menjadi kaisar dunia (Raja di atas Raja), raja agung yang adil bijaksana, raja perkasa berbudhi halus, raja gagah perkasa, tiada yang berani, semua takluk dan takut, bergelar pangeran perang dan sudah berhasil mengalahkan angkara murka.

Semua musuh dapat dimusnahkan oleh sang raja demi kesejahteraan negara dan kemakmuran seluruh bumi, bijak cermat dan mengerti sebelum sesuatu terjadi, bala pasukannya ditakuti seluruh dunia, bersenjatakan trisula wedha, menyerang tanpa pasukan, jika menang tidak menghinakan yang lain, di situlah ada pengampunan, menegakkan hukum dengan adil.

Mulya nama sang raja, tidak ada tindak kejahatan karena para pelaku kejahatan sudah bertobat, takut dengan karma dari sang raja yang adil bijaksana, masyarakat bersuka ria karena keadilan raja telah tiba, pemimpin melayani masyarakat dengan ilmu pengetahuan, itulah asuhan sabdopalon yang sudah menanggung malu tapi termasyhur, segalanya tampak terang benderang, tidak ada orang yang mengeluh kekurangan, itulah tanda jaman kalabendu sudah berganti jaman kamulyaan.

Memperkokoh tatanan jagat raya, semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi, gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem karto raharjo.

"Dekrit tersebut dicatat di atas batu sebagai prasasti yang disebut dengan Prasasti Ibu Bumi Mataram sebagai deklarasi negara seluas bumi yang bersifat absolut dan tidak dapat dicabut sampai sistem bumi berakhir," kata Ngimron.

(rih/ams)