Antisipasi Antraks, Dinkes Beri Antibiotik ke Warga di Gunungkidul

Pradito Rida Pertana - detikNews
Senin, 13 Jan 2020 23:16 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati, Senin (13/1/2020). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)

Sementara itu, DPRD Gunungkidul menyebut banyaknya warga yang berisiko terkena antraks karena menyembelih dan mengonsumsi daging sapi yang mati mendadak. Pemkab Gunungkidul didorong untuk memberi ganti rugi bagi pemilik sapi yang mati mendadak.

"Tadi ada usulan dari teman-teman Komisi D, karena APBD 2020 sudah kita sepakati, mungkin nanti di APBD Perubahan bisa diusulkan, istilahnya semacam stimulan kalau ada masyarakat yang kebetulan punya sapi yang sakit atau mati itu tidak perlu diperjualbelikan dan tidak perlu dikonsumsi," kata Ketua Komisi D DPRD Gunungkidul, Supriyadi saat ditemui di kantornya.


Antisipasi Antraks, Dinkes Beri Antibiotik ke Warga di GunungkidulKetua Komisi D DPRD Gunungkidul, Supriyadi, Senin (13/1/2020). Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Nantinya, pemberian ganti rugi itu akan dilaksanakan oleh Pemkab. "Nanti Pemda akan beri ganti rugi, meski tidak sesuai dengan harga sapi normal, berapa juta nanti akan kita anggarkan untuk beri ganti rugi," ucapnya.

"Karena sapi sakit atau meninggal berkisar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta, dari info yang diperoleh itu akan kita sesuaikan dengan anggaran yang ada, dan ini prioritas," sambung Supriyadi.

Selain itu, pihaknya juga mendorong Pemkab agar mengatur pembatasan jual beli dan konsumsi daging sapi yang mati mendadak.

"Lalu ada rekomendasi terkait dengan aparat penegak hukum untuk melakukan pengawasan terkait dengan apa, ada indikasi kalau kemudian ada sapi yang sakit dan bahkan mati kemudian bisa ditransaksikan, dijualbelikan. Itu nanti saya nanti minta kepada penegak hukum melakukan pengawasan terhadap hal tersebut," ujar Supriyadi.
Halaman

(rih/rih)