Ratusan Juta Hasil Kredit Fiktif Bank BUMN di Kendal Disetor ke WIL

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 14 Nov 2019 17:04 WIB
YY, tersangka kasus kredit fiktif di Kendal. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
YY, tersangka kasus kredit fiktif di Kendal. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Tersangka kasus kredit fiktif di salah satu bank BUMN di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ditahan. Uang hasil kredit fiktif itu ternyata digunakan untuk membeli mobil, bahkan untuk wanita idaman lain (WIL).

Ada dua tersangka dalam kasus ini, yaitu tenaga marketing dan analisis mikro (mantri) di bank tersebut dengan nama Yuna Yanwar. Kemudian tersangka lainnya dari pihak swasta yang membantu Yuna atas nama S alias Jefri.

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Jateng Ketut Sumedana mengatakan hari ini keduanya dipanggil, tapi hanya Yuna yang hadir. Penyidik meminta dilakukan penahanan dan akan dilakukan selama 20 hari ke depan di Lapas Kedungpane, Semarang.

"Penyidik meminta dilakukan penahanan terhadap YY selama 20 hari ke depan," kata Ketut di kantornya, Jalan Pahlawan, Semarang, Kamis (14/11/2019).


"J kalau tidak datang akan kami layangkan panggilan lagi untuk Senin. Kalau tidak ada, kami panggil paksa," imbuhnya.

Ketut menjelaskan, dalam kasus kredit fiktif tersebut, total kerugian adalah Rp 1,9 miliar dan sudah dikembalikan oleh tersangka Rp 200 juta. Uang hasil kejahatan digunakan untuk kepentingan pribadi, termasuk untuk WIL.



"Total kerugian Rp 1,9 miliar, sudah dikembalikan Rp 200 juta sama YY. Hasil keterangan, uang untuk beli tiga biji mobil, perbaikan rumah, dan untuk WIL. Rumah sudah kami sita. Mobil sudah dijual duluan," jelasnya.


WIL tersebut juga sudah dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Perempuan berinisial E itu ternyata mengakui pernah ditransfer Rp 200 juta oleh tersangka.

"WIL-nya mengakui. Dari keterangan, ditransfer Rp 200 juta," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, ada sekitar 50 nama nasabah yang mengajukan Kredit Umum Pedesaan di dua cabang bank tersebut di Kendal. Tersangka mengajukan kredit dengan nama nasabah itu dengan besaran Rp 30-50 juta.

Nasabah yang dipinjam identitasnya itu diberi imbalan Rp 100-500 ribu tanpa tahu peruntukannya. Uang yang cair kemudian digunakan tersangka untuk kepentingan pribadi.

Kasus tersebut terungkap setelah pihak internal bank melakukan investigasi terkait kredit macet. Hasilnya, ada dugaan orang dalam yang terlibat. Saat ini barang bukti yang diamankan berupa uang Rp 200 juta, yang merupakan pengembalian dari tersangka. (alg/sip)