Gadis Remaja Bawa 2 Kg Sabu Dibekuk di Bandara Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Kamis, 14 Nov 2019 16:39 WIB
Jumpa pers kasus penyelundupan sabu di Semarang. (Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Jumpa pers kasus penyelundupan sabu di Semarang. (Angling Adhitya Purbaya/detikcom)
Semarang - Penyelundupan 2 kilogram sabu digagalkan di Bandara Jenderal Ahmad Yani, Semarang. Sabu itu disembunyikan di dalam microwave oleh seorang gadis berusia 18 tahun.

Pengungkapan dilakukan pada Minggu (3/11) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu petugas Bea-Cukai Tanjung Emas di bandara curiga terhadap gerak-gerik perempuan yang baru turun dari pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan AK-328 rute Kuala Lumpur-Semarang.

Perempuan warga negara Indonesia berinisial V yang ternyata masih berusia 18 tahun itu kemudian diperiksa oleh petugas Bea-Cukai. Barang bawaan V diperiksa dengan X-ray dan ternyata berisi microwave. Petugas masih curiga dan melakukan penggeledahan.

"Setelah dilakukan pemeriksaan pada badan dan barang bawaan serta hasil X-ray menunjukkan barang bawaan penumpang tersebut adalah microwave," kata Kepala KPPBC TMP Tanjung Emas Tjertja Karja Adil di kantornya, Kamis (14/11/2019).


Benar saja, ditemukan kristal putih yang diletakkan di bagian atas dan bawah microwave. Kristal putih itu dikemas dalam 10 bungkus plastik yang disembunyikan di sela-sela microwave.

"Modusnya bikin kompartemen palsu pakai microwave. Mereka berpikir kami tidak akan mendeteksi. Dipikirnya kami akan menduga itu hanya microwave, sehingga mereka yakin bisa lolos dan dimasukkan. Dua kilogram lebih itu jumlah yang banyak untuk bandara. Ini terbesar dalam dua tahun terakhir," pungkasnya.

Empat plastik di bagian atas microwave memiliki berat bruto 1.138 gram dan 6 plastik di bagian bawah memiliki berat bruto 932 gram, sehingga berat bruto total menjadi 2.070 gram. Selanjutnya dilakukan pengujian awal menggunakan narcotic identification kits (NIK) dan dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium Bea-Cukai Tanjung Emas dengan hasil positif methamphetamine.

Tjertja menjelaskan, dari pengakuan V, ia akan menuju Kabupaten Pati dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. V diupah Rp 20 juta jika berhasil membawa barang itu ke Surabaya. Siapa yang akan mengupah masih diselidiki.


"Mereka memanfaatkan orang-orang baru anak-anak milenial yang diiming-imingi uang Rp 20 juta," tandasnya.

Dari hasil penyelidikan, V baru dua kali melakukan perjalanan Indonesia-Malaysia. Orang yang memberikan perintah diduga masih ada di Malaysia.

"Diketahui V ini dari paspornya kami lihat masih baru. Baru dua kali perjalanan, Semarang-KL, kemudian sebaliknya," kata Kepala BNNP Jateng Brigjen Benny Gunawan.

"Kami masih lakukan pengejaran ke oknum yang menyuruh V ini. Dia WNI juga, tapi masih di KL," imbuhnya.

Saat ini penyelidikan masih berlanjut dan V harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan dijerat Pasal 112 dan 114 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. (alg/sip)