Jalan Gibran di Tengah Disrupsi Politik Jokowi

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Rabu, 06 Nov 2019 17:28 WIB
Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Sri Hastjarjo (Foto: dok. pribadi)
Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Sri Hastjarjo (Foto: dok. pribadi)
Solo - Kehadiran putra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, membuat dinamika tersendiri dalam Pilwalkot Solo 2020. Kemunculannya dihubungkan dengan disrupsi politik di era Jokowi.

Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Sri Hastjarjo, menilai kondisi saat ini mirip dengan saat Jokowi maju Pilpres 2014. Kala itu Jokowi memanfaatkan popularitasnya yang meningkat ketika memimpin DKI Jakarta.

"Popularitas Pak Jokowi saat itu luar biasa. Banyak komentar selesaikan dulu tugasnya, yang amanah, tapi belum tentu momentum datang dua kali," kata Hastjarjo saat dihubungi detikcom, Rabu (6/11/2019).

"Apakah ini hal yang sama dengan Gibran? Bedanya, Pak Jokowi sudah wali kota, prestasi cukup besar. Kalau Gibran ini kita belum tahu, ini popularitas semu atau betulan," ujar dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNS itu.


Meski demikian, Hastjarjo menilai peluang Gibran menang cukup besar jika benar menjadi kontestan Pilwalkot Surakarta 2020. Dia melihat saat ini merupakan era ketika politik mengalami disrupsi.

Dia mencontohkan ketika Jokowi menunjuk bos Gojek Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal Nadiem dinilai tidak berpengalaman di bidang tersebut.

"Ini sebuah disrupsi yang luar biasa, dan kita dipaksa harus menerima. Apakah disrupsi ini juga akan terjadi di Solo? Karena ada momentum, Gibran dianggap sebagai paradigma baru bahwa pemimpin bukan lagi yang berpengalaman atau di-backing partai," katanya.


Menurutnya, Jokowi pun bakal memberi pengaruh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam memberi rekomendasi. Namun kemungkinan lain, bisa juga terjadi kompromi untuk mengakomodasi kepentingan dua kubu.

"Saya pikir faktor pendapat Pak Jokowi akan sangat berpengaruh. Bagaimanapun, Pak Jokowi saat ini menjadi salah satu maskot PDIP. Atau bisa juga terjadi kompromi, Gibran jadi wakil dulu, Pak Pur wali kotanya, supaya keduanya diakomodasi," pungkasnya.
Halaman

(bai/rih)