Muncul Video Siswa di Sragen Minta Maaf soal Bendera Identik HTI

Muncul Video Siswa di Sragen Minta Maaf soal Bendera Identik HTI

Andika Tarmy - detikNews
Jumat, 18 Okt 2019 15:25 WIB
Foto: Ilustrasi: Mindra Purnomo
Foto: Ilustrasi: Mindra Purnomo
Sragen - Video permintaan maaf para siswa SMK Negeri 2 Sragen atas polemik pembentangan bendera identik HTI di halaman sekolah, beredar di media sosial. Pihak sekolah membenarkan video tersebut dibuat oleh para siswa, usai foto pembentangan bendera identik HTI tersebut viral.

Video berdurasi 42 detik tersebut memuat gambar empat siswa laki-laki, yang diduga pengurus ekstrakurikuler rohis SMKN 2 Sragen. Permintaan maaf disampaikan salah satu siswa yang duduk di bagian depan. Begini isi pernyataan dalam video tersebut:

"Assalamualaikum wr wb. Kami pengurus rohis SMK Negeri 2 Sragen mohon maaf atas kejadian pembentangan bendera tauhid di halaman sekolah kami, pada hari Minggu, tanggal 6 Oktober 2019. Kami tidak tahu kalau bendera tersebut merupakan bendera HTI. Kami berjanji tidak akan membentangkan bendera tersebut di lingkungan sekolah kami. Kami juga bukan simpatisme (simpatisan) HTI. NKRI harga mati!"


Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan SMKN 2 Sragen, Setyanjadi, membenarkan video tersebut dibuat para anak didiknya. Menurut dia, setelah foto pembentangan bendera identik HTI ini menuai polemik, para siswa kemudian berkumpul.

"Justru anak-anak yang tanya. Pak, kita harus bagaimana? Atas saran berbagai pihak, akhirnya anak-anak membuat permintaan maaf tersebut. Itu bentuk ikhtiar kami, agar kejadian ini tidak jadi polemik," terang Setyanjadi.



Keempat siswa yang ada di video tersebut, lanjutnya, antara lain ketua rohis lama, ketua rohis baru, siswa yang membawa bendera, serta siswa yang memfoto.

"Kami benar-benar tidak menyangka akan jadi seperti ini. Bagaimana foto-foto (pembentangan bendera identik HTI) tersebut beredar juga masih belum tahu siapa yang pertama kali mengunggah ke medsos," kata Setyanjadi.


Ke depan, pihak sekolah akan melakukan home visit ke rumah para siswa. Hal ini dilakukan untuk melindungi para siswa, mengingat ada beragam respon dari orang tua masing-masing.

"Kita sudah bertemu dengan orang tua siswa, reaksinya macam-macam. Akan kita follow up dengan home visit. Kita jelaskan semua hiruk pikuk ini, sebagai bagian perlindungan terhadap anak," terangnya.

(rih/rih)