Reresik Sumur Pitu, Tradisi Merawat Mata Air di Purworejo

Rinto Heksantoro - detikNews
Sabtu, 28 Sep 2019 20:23 WIB
Foto: Rinto Heksantoro
Foto: Rinto Heksantoro
Purworejo - Di Purworejo, Jawa Tengah terdapat tradisi unik saat bulan Sura. Namanya Reresik Sumur Pitu yang artinya membersihkan sumur yang berjumlah 7. Seperti apa keunikannya?

Tradisi tersebut digelar di Desa Cangkrep Kidul, Kecamatan Purworejo pada Sabtu (28/9/2019) sore. Selain untuk menjaga tradisi dan budaya, reresik sumur pitu yang dilaksanakan setiap bulan Sura itu juga berguna untuk menjaga kelestarian mata air yang ada agar bisa terus digunakan sebagai sumber kehidupan di lingkungan setempat dan sekitarnya.
Reresik Sumur Pitu, Tradisi Merawat Mata Air di PurworejoFoto: Rinto Heksantoro

"Tradisi ini dilaksanakan setiap bulan Sura. Tujuannya agar sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan utama selalu dijaga. Sehingga meskipun ada kemarau panjang seperti tahun ini, mata air tidak habis dan masih bisa digunakan termasuk untuk pertanian," kata Ketua Panitia Penyelenggara, Teguh Suyono (40) ketika ditemui detikcom di sela-sela acara.

Sebelum ritual dilaksanakan, prosesi diawali dengan arak-arakan dari lapangan desa menuju sumber mata air. Rombongan kirab yang terdiri dari prajurit, dalang, pembawa dupa, kidung rinonce, lurah, hapsara-hapsari, warga setempat hingga pembawa gunungan hasil bumi berjalan membelah desa.
Ribuan warga pun tumpah ruah di sepanjang jalan yang dilalui kirab untuk menonton iring-iringan kirab menuju tempat ritual utama di area Sumur Kemloko. Setiba di pintu masuk area sumber mata air, rombongan kirab disambut suara rebana bertalu-talu.

Teguh menambahkan, ritual sengaja dilakukan di area Sumur Kemloko karena merupakan sumber mata air alami yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan hingga kini masih dikeramatkan.
Reresik Sumur Pitu, Tradisi Merawat Mata Air di PurworejoFoto: Rinto Heksantoro

Di area itu, terdapat tujuh sendang atau sumur dengan nama yang berbeda antara lain sumur pancur, sumur buthek, sumur lanang, sumur wedok, sumur planangan, sumur pandansari 1 dan sumur pandansari 2.

"Mata airnya memang alami dan sampai sekarang tidak pernah habis. Keberadaannya juga sudah lama sejak dari nenek moyang dulu," lanjutnya.

Tak hanya digunakan untuk keperluan sehari-hari, air yang keluar dari ke tujuh sumur itu juga dipercaya memiliki manfaat lain untuk membuat awet muda bahkan menyemb
uhkan segala macam penyakit.

Ritual reresik sumur pitu sendiri berlangsung secara serempak di tujuh sumur dengan petugas yang berbeda. Air sumur diambil oleh seorang anak perempuan dengan menggunakan gayung dari tempurung kelapa, kemudian air dimasukkan ke dalam kendi dari tanah liat yang dibawa oleh seorang anak laki-laki hingga penuh.

Setelah prosesi pengambilan air suci selesai, rombongan kembali berjajar hingga keseluruhan ritual lain usai dilaksanakan sebelum akhirnya menuju balai desa. Selain mengambil air suci, seperangkat kuda lumping beserta pemainnya juga ikut dijamas atau dibersihkan.

Ritual kemudian ditutup dengan rebutan gunungan hasil bumi. Masyarakat pun percaya akan mendapat berkah dan rejeki yang melimpah jika bisa mendapatkan makanan atau hasil bumi dari gunungan itu.

Salah satu warga yang tak mau ketinggalan adalah Wakiyah (40). Meski hanya memperoleh sebatang pisang, ia merasa senang.

"Tadi ikut rebutan, Alhamdulillah ini dapat pisang semoga berkah dan murah rejeki," ucap Wakiyah.
Reresik Sumur Pitu, Tradisi Merawat Mata Air di PurworejoFoto: Rinto Heksantoro

Sementara itu, Kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Agung Wibowo AP yang ikut hadir dalam acara berharap agar atraksi wisata budaya di Purworejo bisa terus dijaga dan tetap menggali potensi lain yang ada untuk menyambut tahun kunjungan wisata Purworejo 2020.

"Tentunya untuk menarik kunjungan wisata, termasuk tradisi reresik sumur pitu ini. Purworejo diharapkan bisa terus menggali potensi yang ada, juga untuk menyambut tahun kunjumgan wisata atau Romansa Purworejo 2020," kata Agung.

Rangkaian acara pun masih berlanjut hingga malam hari dengan menggelar kenduri agung di balaidesa. Hal tersebut dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yanga Maha Esa karena telah diberi limpahan rejeki terutama sumber mata air yang tiada habisnya.

Pada hari Minggu (29/9/2019) besok, acara juga masih akan dilanjutkan dengan menggelar pertunjukan kuda lumping di area sumur pitu dari dari pagi hingga sore hari. (bgk/bgs)