detikNews
2019/09/19 19:15:53 WIB

Sungadi, Pria Asal Sragen Ini Berbobot 140 Kg

Andika Tarmy - detikNews
Halaman 2 dari 3
Sungadi, Pria Asal Sragen Ini Berbobot 140 Kg Foto: Andika Tarmy/detikcom
Sungadi (21) warga Dukuh Jurang, Desa Sono, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, menjalani keseharian dengan bobot tubuh berlebih. Anak kelima dari pasangan Suwarno (50) dan Tukiyem (40) ini, memiliki bobot mencapai 140 kilogram. Berat badan berlebihan ini bahkan sudah dialami Sungadi sejak lahir.

"Dulu waktu baru lahir saja beratnya sudah 4,8 kilogram. Kondisinya jadi susah gerak. Sungadi itu bahkan baru bisa jalan mulai umur 5 tahun, sekarang 140 kg" kata Suwarno, saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (19/9/2019).

Bobot Sungadi yang berlebihan ini, menjadi kendala utama hingga membuat dirinya tak bisa mengenyam bangku sekolah. Kondisi Sungadi tidak memungkinkan untuk berjalan kaki menuju ke sekolah yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari rumah. Sementara kedua orang tuanya tak bisa terus-terusan mengantar ke sekolah karena harus bekerja.

Suwarno menerangkan, kondisi gemuk yang dialami Sungadi membuat nafsu makannya juga berlebih. Saat ini dirinya selalu berusaha membatasi agar Sungadi makan tiga kali sehari saja. Sebab jika tidak dibatasi, Sungadi bahkan kuat makan hingga sembilan kali dalam sehari.

"Ya kalau makanan kesukaannya bakso. Ya orang gemuk ya makannya kayak gitu mas, kuat sekali. Kalau untuk minum ya air putih biasa," terang Suwarno.
Sungadi asal Sragen berbobot 140 kgSungadi asal Sragen berbobot 140 kg Foto: Andika Tarmy/detikcom

Keseharian Sungadi terbilang aktif meski memiliki bobot berlebih. Sungadi bahkan bisa bekerja sebagai buruh pengupas jagung. Namun jika ada tetangga yang sedang membangun, ia memilih membantu jadi kuli bangunan.

"Anaknya cerdas sebenarnya, hanya bicaranya saja yang kurang jelas. Kalau ada tetangga yang sedang bangun rumah, langsung bantu-bantu sebisanya. Dia yang penting kerja, nggak pernah mematok bayaran. Seikhlasnya saja orang mau kasih berapa nggak pernah protes," kata Suwarno.

Suwarno melanjutkan, karena kondisi tubuhnya, Sungadi cukup kesulitan jika harus buang air besar. Bahkan beberapa tahun lalu, Sungadi pernah jatuh hingga masuk ke septic tank, karena lantai WC ambrol akibat tak kuat menyangga beban tubuhnya.

"Wah dulu sampai kerepotan mengeluarkan anak saya dari septic tank. Untungnya bisa (dikeluarkan) dan selamat tanpa luka serius. Sejak saat itu, cor-coran lantai WC saya perkuat agar nggak ambrol lagi," ujar Suwarno.

Suwarno sendiri berharap uluran tangan pemerintah, agar membantu meringankan kondisi anaknya. Jika anaknya bisa diberi perawatan hingga turun beberapa kilogram lagi, tentunya Sungadi akan lebih aktif dalam menjalani keseharian.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen, dr Hargiyanto menjelaskan, pihaknya sudah berkomunikasi langsung dengan keluarga Sungadi. Dinkes juga telah menginstruksikan petugas Puskesmas setempat, untuk mengupayakan pemeriksaan rutin serta memberikan solusi terkait obesitas yang diderita Sungadi.

"Meskipun kondisinya gemuk, tapi masih cukup lincah. Namun tetap harus diperiksa untuk mengantisipasi komplikasi-komplikasi yang berpotensi mengganggu kesehatannya. Jangan sampai anak ini sakit gula tipe satu, karena penanganannya cukup sulit, harus disuntik insulin setiap hari. Perlu juga dikontrol pola makannya," terang Hargiyanto.


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com