detikNews
Selasa 17 September 2019, 02:43 WIB

Kisah 'Galau' Raja Solo Paku Buwono XII Diangkat Sebagai Disertasi

Muchus Budi R., Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Kisah Galau Raja Solo Paku Buwono XII Diangkat Sebagai Disertasi Foto: Istimewa
Solo - Masa-masa akhir kehidupan Raja Kasunanan Surakarta, Susuhunan Paku Buwono (PB) XII diangkat sebagai kajian disertasi di ISI Surakarta. Sang raja menampakan kegundahan besar untuk melestarikan tradisi keraton tanpa ada sumber dana memadai. Terselip juga pemikirannya tentang suksesi setelah dia mangkat.

Suksesi kepemimpinan Keraton Kasunanan Surakarta usai Paku Buwono (PB) XII yang wafat pada 2004 masih menjadi pertanyaan bagi sebagian orang. Sebelum wafat, sang raja ternyata pernah mengungkapnya.

Hal tersebut terungkap dalam film dokumenter 'Paku Buwono XII: Sunan Amardika' karya Gede Putu Wiranegara. Pengambilan gambar dilakukan di akhir masa PB XII, 2002 hingga raja mangkat.

Film ini menjadi materi disertasi karya sebi yang dilakukan ujian terbuka promosi doktor yang dia tempuh di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Film berdurasi sekitar satu jam itu diputar di Ndalem Joyokusuman, Gajahan, Pasar Kliwon, Solo, Senin (16/9/2019) malam.

Lebih dari 75 persen isi film adalah seluruh film adalah penuturan langsung yang disampaikan PB XII kepada Wira. Hal yang paling menjadi perhatian PB XII adalah kegundahan terkait beban pribadinya sebagai raja yang harus terus menghidupkan tradisi keraton berbiaya mahal, padahal hampir seluruh aset sumber dana kerajaan telah diserahkan kepada negara semenjak kemerdekaan RI tahun 1945.

Dalam beberapa segmen terlihat kepasrahan PB XII karena sudah kehabisan jalan untuk mencari sumber dana tersebut. Namun demikian bukan berarti Susuhunan menjadi terlalu gampang membuka pintu bantuan. "Aku ra pengin kratonku kopen nanging ra kajen (aku tak ingin keratonnya terawat namun kehilangan martabat," demikian kata Susuhunan.

Susuhunan PB XII yang naik tahta pada Juli 1945 adalah menjadi raja terakhir dinasti Kasunanan Surakarta yang masih sempat berdaulat penuh sebagai raja dengan wilayah kekuasaan.

Belum genap 2 bulan bertahta, Indonesia mendeka pada Agustus 1945. Susuhunan kemudian memaklumatkan bergabung kepada NKRI. Dia menyerahkan wilayah kekuasaan dan seluruh aset kerajaan negara sebagai bentuk dukungan tersebut.

Karena itulah dia mendapat sebutan Susuhunan/Sunan Mardika atau Susuhunan/Sunan Hamardika sebagai penanda bahwa dialah raja yang bertahta di era kemerdekaan.
Kisah 'Galau' Raja Solo Paku Buwono XII Diangkat Sebagai DisertasiGede Putu Wiranegara -- Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Dukungan kepada NKRI yang tak ternilai harganya ini yang disusul dengan sejumlah peristiwa politik lainnya termasuk munculnya gerakan anti-swapraja yang membuat Keraton Surakarta terpuruk secara ekonomi hingga kesulitan untuk mendanai kegiatan-kegiatan internalnya sendiri. Dalam film dokumenter tersebut, berkali-kali, Susuhunan menyatakan hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Dalam salah satu segmen, Wira sempat menanyakan terkait siapa raja selanjutnya. PB XII mengatakan belum mendapatkan petunjuk dari Tuhan.

"Saya tidak boleh istilahnya nggege mangsa (mendahului kehendak) minta jawaban dari Tuhan. Berarti Tuhan masih membutuhkan hidup saya sebagai Sinuhun (sebutan raja). Tapi mungkin suatu saat kalau saya tidak lengah, Tuhan memberikan isyarat," kata PB XII dalam film.

Pada segmen lain, saat raja sakit, Wira memperoleh kesempatan berada di samping PB XII. Wira menanyakan bagaimana jika tidak ada putra laki-laki dari permaisuri untuk menggantikan dirinya. "Ya comot aja," jawab PB XII santai.

Wira mengatakan film tersebut dapat menghadirkan kembali sosok PB XII untuk mengingatkan putra-putrinya. Seperti diketahui, konflik keluarga berkepanjangan terjadi di keraton pasca PB XII mangkat. Suksesi keraton belum bisa diselesaikan hingga kini, nyaris 20 tahun setelah Susuhan PB XII mangkat.

"Ini kan kondisi keraton kurang baik, semoga dengan film ini bisa menghadirkan Sinuhun kembali. Ke depan agar putra-putri Sinuhun bersatu membangun keraton menjadi bercahaya kembali," ujar Wira.

Pada proses produksinya, Wira merekam seluruh kegiatan sehari-hari PB XII. Dia mengaku menyimpan video keseluruhan yang berdurasi 40 jam.

Wira berhasil mendapatkan video eksklusif menggambarkan kegiatan PB XII yang tidak banyak orang tahu. Bahkan anak-anak PB XII belum tentu melihat kebiasaan ayahnya.

Terlihat seperti kegiatan raja berolahraga di pusat kebugaran, raja yang tinggal di kamar hotel, raja sedang makan, hingga raja merayakan ulang tahun dengan cara modern.

Sesuai judul film, Wira juga ingin menggambarkan sosok PB XII sebagai Sunan Amardika.

"Selain menjadi raja pada masa kemerdekaan, PB XII sendiri menempatkan diri sebagai raja yang merdeka, bebas dari protokoler keraton, selalu ingi jalan-jalan di luar keraton, tinggal di hotel. Tapi sinuhun tidak pernah meninggalkan tanggung jawabnya sebagai raja," kata Wira.

Sejumlah putra-putri PB XII turut hadir dalam pemutaran film itu. Salah satunya GPH Suryo Wicaksono atau yang dikenal Gusti Nino.

Dia pun mengakui bahwa ada hal-hal yang belum pernah dia lihat ataupun dengar langsung dari ayahnya. Misalnya saat PB XII makan anak tikus sebagai jamu, uniknya raja saat itu juga minum minuman isotonik.

"Saya pernah dengar Sinuhun makan anak tikus sebagai jamu. Lewat film ini saya melihat sendiri kebiasaan ayahanda saya. Saya harap Pak Wira bisa mempublikasikan video lainnya untuk menggambarkan sisi lain Paku Buwono XII," kata anak nomor 25 dari PB XII.
(/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com