detikNews
Jumat 23 Agustus 2019, 07:54 WIB

Melawan dengan Elegan: KH AR Fachruddin, Kiai Anti-Provokasi

Usman Hadi - detikNews
Melawan dengan Elegan: KH AR Fachruddin, Kiai Anti-Provokasi KH AR Fachruddin -- Foto: Dok. Muhammadiyah
Yogyakarta - Warga muslim Kotagede, Yogyakarta, geger. Sekelompok kekuatan politik masa itu mementaskan ketoprak dengan lakon 'Matine Gusti Allah' atau 'Kematian Tuhan'. Pementasan tersebut terjadi di masa-masa panas menjelang tragedi politik 1965.

Pementasan itu menyulut emosi umat muslim, termasuk organisisasi keagamaan Muhammadiyah. Namun respon Ketum PP Muhammadiyah kala itu, AR Fachruddin, kalem. Ia tak emosional atas 'provokasi' tersebut.

Pak AR, begitu ulama kenamaan ini akrab disapa, memilih jalan budaya untuk melawan pementasan ketoprak dari PKI. DIa merancang sebuah perlawanan budaya yang elegan, pementasan ketoprak dengan lakon berbeda yakni 'Matine Iblis' atau 'Matinya Iblis'.

Pak AR mengajarkan bahwa segala provokasi terhadap umat tidak harus dilawan dengan kekerasan, namun bisa dilakukan dengan cara lain yang lebih elegan tapi mengena.

"Perang wacana juga dibalas dengan wacana, seni juga dibalas dengan seni. Jadi tidak terus dilawan dengan kekerasan," ucap mantan Pimpinan Redaksi Suara Muhammadiyah, Mustofa W Hasyim.


Keterangan Mustofa tersebut tertera dalam buku 'Pak AR yang Zuhud: Memimpin Umat dengan Islam yang Menggembirakan' yang ditulis Mochammad Faried Cahyono dan Yuliantoro Purwowiyadi.

Pada masa kepemimpinan Pak AR, seni ketoprak memang kerap dipakai sebagai sarana dakwah oleh organisasi Muhammadiyah. Caranya cerita ketoptrak diganti dengan pesan-pesan agama, namun tanpa mengubah pakem seni ketoprak yang sudah ada.

"Seni ketoprak Muhammadiyah mengambil gaya stambul dengan pakaian model budaya Turki. Cerita yang dibawakannya tentang kerajaan Islam yang sarat nasihat agama untuk dakwah Islam," demikian ditulis dalam buku tersebut.

Pak AR merupakan Ketum PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah organisasi. Ia memimpin salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini sejak tahun 1968 hingga 1990, atau kurang lebih 22 tahun lamanya.

Nama lengkapnya adalah Kiai Haji Abdul Rozak (AR) Fachruddin. Ia adalah anak dari pasangan Kiai Fachruddin (penghulu Pura Pakualaman) dan Nyai Siti Maemudah binti Kiai Idris Pakualaman. AR lahir pada 14 Februari 1916 di Pakualaman, Yogyakarta.


Perjalanan hidup Pak AR banyak dihabiskan untuk kepentingan perserikatan Muhammadiyah. Ia pernah ditugaskan mengajar sekolah Muhammadiyah di Pulau Sumatera beberapa waktu, hingga akhirnya ia kembali ke Yogyakarta.

Sementara sosok Pak AR dikenal dengan kesederhanaan dan kezuhudannya. Meski menyandang status sebagai ketua organisasi keagamaan yang besar, namun bisa dikatakan Pak AR tak memiliki harta yang melimpah, mobil saja tak punya.

Perihal kesederhanaan Pak AR dibenarkan Ketum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, Haedar Nashir. Menurutnya Pak AR adalah sosok kharismatik nan sederhana. Perilakunya bisa menjadi teladan bagi anak bangsa dan jemaah Muhammadiyah.

"Saya kebetulan juga sempat ya bertemu dan berinteraksi dengan Pak AR Fachruddin, ketika saat itu saya masih (aktif) di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)," kata Haedar saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu di kediamanya di Bantul, DI Yogyakarta.

"Pak AR sosok ulama yang kharismatik, rendah hati dan sederhana. Tapi beliau menjiwai betul Muhammadiyah, karena memang lahir dalam proses pergumulan yang begitu panjang, dan juga tentu kiprahnya untuk bangsa dan negara tidak bisa kita hitung," lanjutnya.


Sosok Pak AR, kata Haedar, berhasil menyerap dan menjalankan pemikiran-pemikiran Muhammadiyah. Oleh karenanya tak heran pada masa kepemimpinan Pak AR, perserikatan Muhammadiyah tampak begitu kultural.

"Beliau betul-betul dalam track-nya membawa Muhammadiyah dan di era beliau Muhammadiyah itu menjadi Muhammadiyah yang betul-betul kultura. Pendekatan kultural beliau di dalam bergaul dengan masyarakat itu sangat inklusif," tuturnya.

Kini Pak AR telah tiada. Ulama sederhana ini wafat pada usia 79 tahun, tepatnya pada Hari Jumat tanggal 17 Maret 1995 pukul 08.00 WIB. Jenazahnya dikebumikan di Makam Karangkajen, Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta.



Tonton video DPR Minta Mahasiswa Papua Tak Terpancing Provokasi:

[Gambas:Video 20detik]


(ush/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com