detikNews
Selasa 20 Agustus 2019, 21:07 WIB

Sedulur Sikep di Kudus, Daur Ulang Limbah Plastik Jadi Paving

Akrom Hazami - detikNews
Sedulur Sikep di Kudus, Daur Ulang Limbah Plastik Jadi Paving Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Banyaknya sampah plastik menjadi persoalan serius saat ini. Anggota Komunitas Sedulur Sikep di Kudus, Jawa Tengah ini bersama warga mengolah sampah plastik menjadi paving block dan batu hiasan dinding.

Hal itu dilakukan salah satu anggota Sedulur Sikep di Kudus, Gunondo, warga Dukuh Kaliyoso, RT 5 RW 6, Desa Karang Rowo, Kecamatan Undaan. Limbah sampah plastik didaur ulang menjadi barang-barang yang lebih berguna.

Gunondo, mengaku kalau dirinya memang berasal dari Komunitas Sedulur Sikep. ia mendaur ulang sampah plastik ketika melihat sampah plastik semakin banyak di lingkungannya.

"Saya memang dari Sedulur Sikep. Saya bersama dua orang warga lain, membuat paving dan batu tempel (batu hiasan dinding), 100 persen dari limbah sampah plastik," kata Gunondo, Selasa (20/8/2019) sore.
Sedulur Sikep di Kudus, Daur Ulang Limbah Plastik Jadi Paving Foto: Akrom Hazami/detikcom

Kedua warga yang digandengnya adalah Nurhadi dan Arif. Ketiganya mengolah sampah plastik jadi paving dan batu hias dinding sejak Juli 2019 lalu.

Dia bersama Gunondo dan Arif sepakat mengolah sampah plastik agar bernilai ekonomi, dan bisa mengurangi tumpukan sampah plastik.

"Kami membuat paving dan batu tempel karena iseng. Kami bertiga mencoba menyeriusi paving dan batu tempel itu akhirnya," jelasnya.

Ia nengumpulkan sampah rumah tangga dan juga mendapat kiriman sampah dari pemulung atau tengkulak sampah. Berkarung-karung sampah yang ada di samping rumah Gunondo kemudian dipilah-pilah.

Sampah plastik yang telah dipilah oleh Gunondo ditaruh di atas lempengan khusus untuk pembakaran plastik. Aneka macam sampah plastik dibakar hingga lumer.

Begitu semua sampah plastik lumer, Gunondo memasukkannya ke dalam cetakan paving, yang sebelumnya telah diolesi cairan minyak. Demikian pula ketika mencetak batu hias dinding.

Sementara rekannya, melanjutkan dengan mencelupkan cetakan berisikan cairan sampah plastik ke dalam wadah air. Setelah lima menit, cetakan dilepas dengan cara mengepresnya pakai alat khusus. Kemudian, isi cetakan dilepas sehingga terbentuklah paving atau batu hias dinding.
Sedulur Sikep di Kudus, Daur Ulang Limbah Plastik Jadi Paving Foto: Akrom Hazami/detikcom

"Untuk membuat satu batu tempel butuh sekitar 1 kg sampah plastik, dan untuk paving kurang lebih 1 kg sampah plastik. Ukuran paving dengan ketebalan 4 cm, diameter 12 cm. Dan untuk batu tempel ukuran 20 cm x 40 cm," jelas Nurhadi.

Menurutnya yang membedakan paving dan batu hias dinding bahan plastik dengan paving pada umumnya adalah soal kekuatan. Jika dari plastik itu tidak mudah patah, atau remuk. Mereka menjual produk paving dan batu hias per biji Rp 6 ribu.

"Sehari bisa produksi 21 batu tempel dan 20 paving awalnya. Kini bisa produksi batu tempel 40 buah dan paving 30 buah," tambahnya.

Pihaknya berharap ada perhatian khusus pemerintah setempat. Dia juga berharap ke depan akan ada bank sampah agar masyarakat sama-sama mengatasi soal sampah plastik.
"Kami berharap pemerintah ikut mensosialisasikan bank sampah. Minimal pemerintah desa atau kecamatan," pungkasnya.


(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com