Melihat Uniknya Upacara Pernikahan Lumpang dan Alu di Bantul

Melihat Uniknya Upacara Pernikahan Lumpang dan Alu di Bantul

Pradito Rida Pertana - detikNews
Minggu, 18 Agu 2019 18:53 WIB
Pernikahan lumpang dan alu di Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Pernikahan lumpang dan alu di Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Acara pernikahan ternyata bukan hanya manusia saja, seperti yang ada di Pedukuhan Onggopatran, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul. Warga di pedukuhan tersebut menikahkan lumpang dan alu, dua alat tradisional untuk mengolah hasil pertanian.

Prosesi pernikahan kedua benda ini juga terbilang unik, mengingat setiap perwakilan tiap RT di Pedukuhan tersebut harus mengajukan lamaran kepada tokoh masyarakat yang menjadi wali dari lumpang bernama Nyi Tentrem.

Lamaran itu berupa alu yang dikirab menuju lokasi keberadaan lumpang. Setelah menjalani seleksi, nantinya akan terpilih sebuah alu yang menjadi pasangan Nyi Tentrem.

Pantauan detikcom, sejak siang hari ratusan warga telah berkumpul di pinggir persawahan yang ada di Daup Alu di Pedukuhan Onggopatran, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu (18/8/2019). Selanjutnya, dengan mengenakan pakaian adat Jawa berwarna-warni mereka mulai melakukan kirab dengan rute mengelilingi Pedukuhan tersebut.

Dalam kirab tersebut, warga turut membopong sebuah tandu berisi hasil bumi, makanan, hewan ternak dan benda berukuran panjang menyerupai alu. Setelah menempuh perjalanan sejauh 3,5 kilometer, warga kembali ke pinggir persawahan yang menjadi lokasi keberadaan lumpang Nyi Tentrem.

Sesampainya di lokasi tersebut, perwakilan dari masing-masing RT melamar lumpang Nyi Tentrem. Terdengar negoisasi disertai gelak tawa antara perwakilan RT dengan tokoh masyarakat yang menjadi wali nikah dari lumpang tersebut.

Setelah menjalan seleksi, ternyata tiga dari empat alu yang dibawa perwakilan RT berisi makanan seperti lemper dan ketan. Sedangkan salah satu alu ada yang benar-benar terbuat dari kayu, setelah memastikan pasangan lumpang tersebut, maka alu yang memiliki panjang sekitar 2 meter ini dipasangkan dengan lumpang Nyi tentrem.

Panitia Daup Alu, Joko Sulistyo menjelaskan, bahwa lumpang tersebut ditemukan di Sungai buntung pada tahun 1960-an. Setelah penemuan itu, warga berupaya memindahkan lumpang tapi tidak kunjung berhasil.


"Tahun 1960-an itu sempat dinaikkan tapi kembali terus (ke Sungai Buntung). Akhirnya setelah beberapa waktu lumpang itu berhasil dipindah," katanya saat ditemui di Pedukuhan Onggopatran, Desa Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Minggu (18/8/2019).

Pernikahan lumpang dan alu di Bantul.Pernikahan lumpang dan alu di Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Seiring berjalannya waktu, warga ingin memindahkan lumpang tersebut di sebuah tempat khusus. Akhirnya, 40 hari lalu warga melaksanakan acara boyong lumpang ke tempat barunya berupa pendopo kecil di pinggir sawah.

"Dalam pemahaman Jawa, lumpang adalah simbol yoni atau perempuan, dan warga menilai lumpang itu sudah dewasa sehingga perlu dinikahkan. Karena itu kita adakan sayembara untuk melamar sebagai alunya," katanya.

Terkait makna pernikahan antara lumpang Nyi Tentrem dan Alu Ayem, sebenarnya ia ingin membuat pemahaman agar warga tergugah untuk merawat alat-alat pertanian. Mengingat sebagian besar warga Pedukuhan Onggopatran berprofesi sebagai petani.

"Lumpang dan alu itu kan benda fungsional dan digunakan untuk kelangsungan hidup, karena bisa merubah gabah menjadi beras. Selain itu, untuk memaknainya kita akan merawat lumpang itu tadi dengan mencarikan aku sebagai pasangannya," ujarnya.

Karena itu, Joko menyebut pernikahan Daup Alu ini bukanlah pernikahan layaknya manusia, namun lebih kepada mengingatkan manusia untuk merawat benda yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.


"Jadi proses lamaran itu memang sengaja ada membentuk ketan dan menata lemper menyerupai alu, karena yang benar-benar alu dari kayu sudah kami siapkan," katanya.

"Nantinya, untuk perwakilan yang tidak lolos seleksi, makanan yang dibawa akan dimakan ramai-ramai oleh warga," imbuh Joko.

Pernikahan lumpang dan alu di Bantul.Pernikahan lumpang dan alu di Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Joko melanjutkan, setelah pernikahan lumpang dan alu tersebut selanjutnya akan menjadi monumen khusus untuk menarik wisatawan. Mengingat Pedukuhan Onggopatran merupakan Desa rintisan wisata.

"Setelah setahun menikah akan ada sayembara lagi. Jadi daup alu ini berkelanjutan," ucapnya. (sip/sip)