detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 13:24 WIB

Warga Wonogiri Kembangkan Pertanian Hemat Air dan Anti Harga Jatuh

Aris Arianto - detikNews
Warga Wonogiri Kembangkan Pertanian Hemat Air dan Anti Harga Jatuh Agrowisata lahan kering di Wonogiri. (Foto: Aris Arianto/detikcom)
Wonogiri - Kalangan petani Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri saat ini mengembangkan agrowisata berupa sayur dan buah-buahan. Selain sebagai solusi pertanian lahan kering, juga untuk 'mengamankan' harga yang sering jatuh di musim panen.

"Jika dibandingkan dengan menanam padi, hortikultura ini jauh lebih hemat dalam penggunaan air. Perbandingannya bisa 1 : 3. Jika hortikultura menghabiskan 15 liter, padi bisa 50 liter bahkan lebih," ungkap pencetus ide agrowisata Kepatihan, Dwi Sartono, kepada detikcom di lahannya, Rabu (24/7/2019).

Dwi Sartono memanfaatkan lahan 4000 meter persegi untuk ditanami terong, cabai, labu madu, tomat, pare, mentimun, melon golden, melon hijau, semangka kuning, dan semangka merah. Kebutuhan air diperoleh dari aliran sungai yang diangkat menggunakan pompa air. Ada juga dari sumur pantek yang dibuat di lahan tersebut.
Warga Wonogiri Kembangkan Solusi Pertanian untuk Daerah Kurang AirAgrowisata lahan kering di Wonogiri. (Foto: Aris Arianto/detikcom)


Tanaman miliknya diairi setiap 5 hari sekali dan hanya memerlukan15 liter. Cuma butuh belasan jam untuk bisa mengairi lahan tersebut. Padahal dengan luas lahan yang sama, dibutuhkan 50 liter air untuk padi dengan waktu lebih dari satu atau dua hari.

Untuk hortikultura, jelas Dwi, lahan dibagi dalam beberapa petak. Setiap satu petak diberi beberapa alur selokan. Tanaman ditempatkan pada tanah yang ditinggikan di antara selokan itu.

"Yang dialiri hanya selokannya. Pengairan secara bertahap, satu petak selesai, dilanjutkan ke petak selanjutnya. Ini lebih menghemat penggunaan air," jelas dia.

Budidaya hortikultura juga menyiasati harga jatuh saat panen. Pasalnya ketika memasuki usia panen, seperti saat ini, wisatawan lokal maupun warga boleh memetik sendiri dari pohon. Selanjutnya tinggal ditimbang dan dibayar di kasir.

"Petani bisa mengatasi harga anjlok saat panen tiba. Sebab bisa bertemu langsung dengan konsumen, tanpa melalui pengepul atau tengkulak dan pedagang, memotong jalur distribusi. Harga menjadi murah bagi konsumen tapi menjadi lebih baik bagi petani," tetang Dwi.


Warga Wonogiri Kembangkan Solusi Pertanian untuk Daerah Kurang AirAgrowisata lahan kering di Wonogiri. (Foto: Aris Arianto/detikcom)

Dia mencontohkan, harga semangka Rp 5.000-7.000 per kilogram. Jauh di atas harga ketika dijual petani ke tengkulak yang hanya Rp 2.000 per kilogram.

Dwi menuturkan, awal gagasan membuat agrowisata muncul sejak 2008 lalu. Saat ini ada ketika musim kemarau tiba persawahan tidak bisa ditanami padi. Dia lalu menanam buah, dan sayuran.

"Jadi awalnya untuk berbagi pengetahuan dengan petani dan masyarakat lainnya. Tidak diduga ternyata malah menarik perhatian," sebut dia.

Saat hari biasa, pengunjung yang datang bisa mencapai 300-500 orang. Sedangkan pada Weekend bisa tembus 1000 pengunjung lebih.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com