detikNews
Selasa 23 Juli 2019, 17:17 WIB

Sakralnya Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri di Pantai Parangkusumo

Pradito Rida Pertana - detikNews
Sakralnya Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri di Pantai Parangkusumo Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsun Jaladri di Pantai Parangkusumo, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Ratusan warga Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul melaksanakan Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri hari ini. Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME).

Pantauan detikcom, ratusan orang dengan mengenakan pakaian adat Jawa tampak berduyun-duyun mendatangi di Pantai Parangkusumo sembari mengarak gunungan berisi hasil bumi. Selanjutnya, beberapa orang dari rombongan itu menuju ke Cepuri Parangkusumo untuk melakukan doa bersama.

Selesai berdoa, ratusan orang itu mulai menuju pinggir Pantai Parangkusumo untuk melaksanakan Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Adapun barang yang dilabuh warga berupa pakaian, sedangkan gunungan berisi hasil bumi diperebutkan oleh warga dan pengunjung Pantai tersebut.

Wakil Ketua Panitia Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Tri Waldiyono menjelaskan, bahwa tradisi labuhan merupakan kegiatan rutin setiap tahun.

Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsun Jaladri di Pantai Parangkusumo, Bantul.Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsun Jaladri di Pantai Parangkusumo, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Makna dari upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri ini adalah sebagai wujud ucapan syukur kepada Tuhan karena telah melimpahkan karunia-Nya dengan berbagai macam situasi, serta memberi barokah kepada masyarakat," katanya saat ditemui di Pantai Parangkusumo, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Selasa (23/7/2019).


Sambung Tri, labuhan ini melibatkan delapan RT yang berasal dari Dusun Mancingan. Tri menjelaskan pula, prosesi labuhan ini diawali dengan Merti dusun, yakni membersihkan lingkungan dan meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan.

Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsun Jaladri di Pantai Parangkusumo, Bantul.Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsun Jaladri di Pantai Parangkusumo, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Bekti Pertiwi berarti ucapan syukur kepada Tuhan yang telah memberikan bumi, sehingga oleh masyarakat bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam dan mengais rezeki," ucap Tri.

Selanjutnya, warga akan melaksanakan kenduri di setiap RT. Setelah itu, warga menyiapkan gunungan berupa hasil bumi dan berkumpul di Balai Dusun Mancing untuk melakukan kirab menuju Pantai Parangkusumo.


"Setelah kirab dilakukan doa bersama dan diakhiri dengan labuhan, yaitu melarung pakaian, kemben dan jarik ke laut. Maksud labuhan adalah wujud tasyakur kepada Tuhan, karena telah menciptakan lautan, dan menjadi lahan bagi kita untuk mengais rezeki dari laut," ucapnya.

Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsun Jaladri di Pantai Parangkusumo, Bantul.Labuhan Bekti Pertiwi Pisungsun Jaladri di Pantai Parangkusumo, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

Terkait adanya hubungan pelaksanaan labuhan dengan prediksi BMKG mengenai gelombang tinggi di laut Selatan Jawa, Tri mengaku tidak ada. Namun, dalam doa bersama tadi, ia dan warga Dusun Mancingan meminta kepada Tuhan agar kawasan Pantai Parangtritis tidak terkena dampak gelombang tinggi.

"Yang disampaikan BMKG itu sebagai disiplin ilmu mereka, dan karena kita bukan ahli maka kita ikuti statement BMKG. Tapi kami punya keyakinan, dan selalu berdoa semoga apa yang jadi prediksi (BMKG) tidak akan terjadi," pungkasnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com