detikNews
Kamis 18 Juli 2019, 15:48 WIB

Ini Modus Akal-akalan Investasi Bodong Alfarizi di Jateng-DIY

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Ini Modus Akal-akalan Investasi Bodong Alfarizi di Jateng-DIY Foto: Bayu Ardi Isnanto
Klaten - Polres Klaten membuka modus investasi bodong yang dilakukan bos PT Krishna Alam Sejahtera, Alfarizi. Modusnya ialah memutar uang pendaftaran mitra baru untuk memberikan gaji atau keuntungan kepada mitra lama.

Ternyata modus obat herbal dengan cara mitra yang melakukan pengeringan jamu hanyalah akal-akalan pelaku. Jamu yang dikeringkan mitra setelah disetorkan dibasahi lagi kemudian dikeringkan lagi oleh mitra lainnya.

Untuk bergabung menjadi mitra, warga harus membayarkan uang pendaftaran sesuai paket yang dipilih. Ada tiga paket, yakni senilai Rp 8 juta, Rp 16 juta dan Rp 24 juta.

Setelah mendaftar, mitra mendapatkan peralatan untuk bekerja, seperti oven hingga bahan-bahan jamu. Mitra hanya bertugas mengeringkan bahan jamu yang basah.

Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi mengatakan pengeringan bahan jamu hanyalah akal-akalan Alfarizi. Usaha tersebut dilakukan untuk mengelabui mitra.

"Itu bahan jamu yang diserahkan ke mitra kan basah, lalu tugas mitra mengeringkan lalu disetor. Nanti bahan itu dibasahi lagi lalu dikasih ke mitra lainnya agar dikeringkan mitra lainnya. Jadi cuma muter saja," kata Kapolres, Kamis (18/7/2019).

Sekali setor dalam seminggu, mitra bisa memperoleh gaji sesuai paket yang dia ikuti. Paket pertama dengan biaya Rp 8 juta mendapatkan Rp 1 juta, kemudian paket Rp 16 juta mendapatkan Rp 2 juta dan paket Rp 24 juta mendapatkan Rp 3 juta.

"Jadi uangnya hanya diputar-putar saja. Yang pertama nyetor lancar, yang belakangan pusing tak dapat," ujarnya.

Menurut Kapolres, Alfarizi merupakan residivis kasus yang sama di Yogyakarta pada tahun 2009. Saat 2013, dia kembali memulai usaha yang sama.

"Tahun 2013 dia membuka kantor PT Sekar Jagad di Purbalingga. Lalu tahun 2019 ini membuka PT Krishna Alam Sejahtera di Klaten," kata dia.

Sementara Alfarizi masih berkilah atas perbuatannya. Dia mengaku tidak bermaksud menipu, namun dia masih perlu waktu mengurus izin edar produknya.

"Bukan penipuan, ini sudah lewat notaris, masih mengurus izin edar. Mitra yang sudah mengerjakan kita gaji, sementara kita bayar gaji pakai uang pendaftaran mitra sambil menunggu izin edar keluar," kata Alfarizi.

Menurutnya, produk bahan jamu yang akan dia edarkan cukup untuk menutup gaji para mitra. Sehingga dia berani memakai uang pendaftaran mitra baru terlebih dahulu.

"Kalau jadi obat, dibikin kapsul, katakan 25 kg dikerjakan sampai jadi bisa laku Rp 25-30 juta. Jadi produk yang dilabel bisa dititipkan toko obat atau apotek," katanya.

Simak Video "Kebakaran Misterius di Kantor Korpri Klaten, Polisi Turun Tangan"
[Gambas:Video 20detik]

(bai/bgk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com