detikNews
Selasa 16 Juli 2019, 15:41 WIB

Eks Ketua PN Semarang Jadi Saksi di Sidang Suap Bupati Jepara

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Eks Ketua PN Semarang Jadi Saksi di Sidang Suap Bupati Jepara Bupati Jepara nonaktif, Ahmad Marzuki. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Semarang - Sidang kasus suap Bupati Jepara nonaktif, Ahmad Marzuqi menghadirkan mantan Ketua Pengadilan Negeri Semarang, Purwono Edi Santosa sebagai saksi. Purwono diperiksa terkait penunjukan hakim dalam perkara suap itu.

Purwono disebut jaksa menunjuk hakim Lasito menjadi hakim tunggal yang akan mengadili gugatan praperadilan terkait penetapan Ahmad Marzuqi sebagai tersangka. Status tersangka Ahmad Marzuqi ini terkait kasus dugaan korupsi dana bantuan partai politik di Kabupaten Jepara. Dalam sidang tersebut akhirnya Marzuqi memenangi praperadilan.

Pada sidang yang dipimpin hakim ketua, Aloysius Bayu Priharnoto itu Purwono mengaku penunjukan Lasito sudah sesuai dengan giliran hakim yang menangani perkara.


"Penunjukan Pak Lasito sesuai dengan giliran hakim yang menangani perkara di pengadilan," kata Purwono, Selasa (16/7/2019).

Purwono juga menegaskan tidak ada intervensi setelah penunjukan hakim dilakukan terkait praperadilan Marzuqi.

"Setelah ditunjuk ya sudah, menjadi kewenangan hakim yang mengadili perkara," ujarnya.

Purwono juga ditanya soal upaya peningkatan status akreditasi Pengadilan Negeri Semarang. Ia menjelaskan memang ada pembiayaan sebesar Rp 44 juta. Namun ia mengaku tidak tahu detil kebutuhan pembiayaan untuk optimalisasi sumber daya untuk peningkatan akreditasi itu.


"Ada pembiayaan Rp 44 juta yang berasal dari DIPA APBN 2017," katanya.

Purwono membenarkan ada pembangunan dua gerbang gapura di PN Semarang, renovasi kusen pada empat ruang sidang, pengadaan sejumlah pendingin ruangan, hingga perbaikan kamar mandi. Menurutnya detil anggaran sekretaris pengadilan yang lebih paham.

Salah satu hakim PN Semarang, Soeparno juga diperiksa sebagai saksi. Ia menjadi yang bertanggungjawab pada bagian pembenahan administrasi saat program peningkatan akreditasi. Ia menyebut para hakim diminta membantu dalam program akreditasi itu.

"Tidak tahu uangnya dari mana. Karena perintah atasan, ya laksanakan saja," kata Soeparno.

Untuk diketahui, Marzuqi dan Lasito kini menjadi terdakwa. Jaksa menyebut uang suap yang diterima Lasito terdiri dari Rp 500 juta dan uang dalam bentuk dolar AS yang nilainya USD 16 ribu.

Simak Video "Kasus Suap Praperadilan: Bupati Divonis 3 Tahun, Hakim 4 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]

(alg/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com