detikNews
Kamis 20 Juni 2019, 21:59 WIB

Kemarau Awal, 400 Hektare Padi di Gunungkidul Gagal Panen

Pradito Rida Pertana - detikNews
Kemarau Awal, 400 Hektare Padi di Gunungkidul Gagal Panen Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Musim kemarau yang datang lebih awal membuat 400 hektare tanaman padi di Gunungkidul gagal panen atau puso. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul berupaya usulkan bantuan benih ke pusat.

"Sementara ini ada sekitar 400 hektar lahan pertanian yang gagal panen, khususnya tanaman padi. 400 hektar itu akumulasi dari 10 Kecamatan se-Gunungkidul," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto saat ditemui di Bangsal Sewokoprojo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (20/6/2019).

Bambang melanjutkan, 400 hektare lahan pertanian yang gagal panen itu terdiri dari 75 hektar lahan di Kecamatan Semin, 194 hektare di Kecamatan Patuk, 10 hektare di Kecamatan Karangmojo, 35 hektare di Kecamatan Ngawen, 6 hektare di Kecamatan Girisubo, 2 hektare di Kecamatan Wonosari, 13 hektare di Kecamatan Playen, 32 hektare di Kecamatan Ponjong, 8 hektare di Kecamatan Nglipar dan terakhir 25 hektare di Kecamatan Gedangsari.

"Penyebab 400 hektare lahan pertanian kena puso itu karena musim kemarau datang lebih awal, kan mestinya April masih ada hujan, tapi ini pertengahan April tidak ada hujan sampai sekarang," kata Bambang.

Padahal, menurut Bambang untuk 1 hektare lahan dapat menghasilkan 5 ton padi. Berkaca dari data tersebut, maka dari pertengahan bulan April hingga bulan Juni ini ada 2.000 ton padi yang gagal panen di Gunungkidul.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan jika hujan tak kunjung turun hingga bulan Oktober dapat dipastikan lahan pertanian yang gagal panen semakin bertambah.

"Karena itu, saat ini kami sedang berupaya untuk mengusulkan bantuan cadangan benih nasional dari pusat (Kementerian Pertanian)," ujarnya.

Terkait adanya kesalahan petani saat memprediksi iklim untuk bercocok tanam, Bambang mengatakan bahwa Dinas Pertanian dan Pangan sebelumnya sudah memberi sosialisasi kepada para petani. Sosialisasi tersebut mengenai cara membaca iklim ketika hendak bercocok tanam.

"Yang jelas kita sudah sosialisasikan, tapi mungkin karena iklim saat ini sulit dibaca dan penyampaiannya kurang update. Sehingga kedepannya kami akan sekolahkan 20 petugas lapangan untuk sekolah iklim, itu agar mereka bisa mensosialisasikan ke petani terkait iklim yang pas untuk bercocok tanam," kata Bambang.

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed