detikNews
Rabu 19 Juni 2019, 06:54 WIB

Round-Up

Keseharian Wahyu Pembuat Hoax 'Server KPU Di-setting' di Mata Tetangga

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Keseharian Wahyu Pembuat Hoax Server KPU Di-setting di Mata Tetangga Ketua RW 06, Indaryanto. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Yogyakarta - Wahyu Nugroho (54) ditangkap polisi karena menyebar berita bohong alias hoaks 'server KPU di-setting untuk menangkan Jokowi-Ma'ruf Amin. Seperti apa keseharian Wahyu di mata tetangga?

Detikcom mendatangi rumah Wahyu di Jalan Jenggolo, Tapen RT 01 RW 06, Kelurahan Nusukan, Banjarsari Solo, Selasa (18/6) sore. Namun rumah tersebut sepi dan tak ada jawaban saat pintu pagar diketuk beberapa kali.

Seorang pekerja bengkel yang terletak di depan rumah Wahyu mengatakan bahwa rumah tersebut sering kosong.

"Mobilnya juga tidak ada. Tapi tidak tahu ke mana," kata pria bernama Jono tersebut.

Ketua RW 06, Indaryanto, membenarkan bahwa warganya saat ini telah ditangkap oleh kepolisian. Sejak saat itu, kondisi kesehatan istri Wahyu menurun hingga jatuh sakit.

"Ini istrinya Pak Wahyu sedang dirawat di rumah sakit, makanya rumahnya sepi," kata Indaryanto saat ditemui di rumahnya.

Rumah Wahyu Nugroho di Solo. Rumah Wahyu Nugroho di Solo. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Indaryanto mengatakan bahwa Wahyu mulai jarang terlihat sejak kampanye Pemilu 2019 dimulai.

"Sejak sekitar Maret itu sudah tidak kelihatan di kampung. Tidak tahu ke mana. Warga sini juga tidak pernah ingin tahu urusan orang lain," jelasnya.

Soal keterlibatan Wahyu dalam kontestasi pemilu, Indaryanto mengaku tidak tahu. Wahyu tidak pernah memperlihatkan keterlibatannya dalam politik kepada warga kampung.

"Dia tidak pernah membahas politik di kampung. Di rumahnya juga tidak pernah ada atribut partai politik atau calon presiden," katanya.


Menurutnya, warga sekitar tidak menyangka Wahyu ditangkap polisi. Meski dikenal jarang bersosialisasi dengan warga kampung, tapi Wahyu tetap dikenal sebagai sosok yang baik.

"Orangnya memang jarang kumpulan RT, tapi orangnya baik, pendiam, dermawan," ujar dia.

"Warga tahunya dia dosen. Dia pintar IT karena memang sarjana komputer," imbuh Indaryanto.

Namun dia tak tahu di mana Wahyu mengajar. Indaryanto juga bercerita bahwa di rumah Wahyu ada banyak foto Wahyu bersama pejabat dan tokoh nasional.

"Saya pernah di rumahnya, banyak fotonya dengan pejabat, ada Pak Jokowi, ada Hatta Rajasa, Amien Rais. Jadi saya hanya berpikir memang beliau kenalannya pejabat," kata dia.


Menurutnya, sebelum penangkapan Wahyu, banyak orang asing diduga polisi yang kerap memantau rumah di Jalan Jenggolo Tapen nomor 44 itu. Namun warga baru menyadarinya ketika Wahyu ditangkap polisi.

"Baru tanggal 11 Juni itu saya diminta menyaksikan polisi menyerahkan surat tugas kepada keluarga Pak Wahyu. Itu posisi sudah ditangkap, lalu dibawa ke Jakarta," tutupnya.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Kombes Rickynaldo mengatakan Wahyu hadir di rumah mantan Bupati Serang Ahmad Taufik Nuriman dalam rangka rapat pemenangan salah satu paslon capres-cawapres pada Rabu (27/3). Di sanalah Wahyu menyampaikan hoax tersebut.

Rickynaldo menuturkan pihak tim pemenangan tahu Wahyu akan mempresentasikan materi yang disebut temuannya soal bocornya server KPU dan adanya setting kemenangan untuk Jokowi-Ma'ruf Amin. Belakangan, Wahyu menyatakan narasi yang disampaikan dalam video tidak didukung bukti dan hanya berdasar informasi dari media sosial.


"(Motif) mendapat pengakuan kredibilitasnya, ingin memperoleh pengakuan oleh tim (paslon capres) 02 dan dijadikan bagian dari pemenangan," jelas Rickynaldo.

Rickynaldo menuturkan sejak KPU melaporkan adanya hoax tersebut ke Bareskrim, Wahyu masuk dalam daftar buronan kepolisian. Namun dirinya berpindah-pindah tempat antara Jakarta dan Solo.

Saat dihadirkan dalam jumpa pers, Wahyu menyampaikan permintaan maafnya.

"Saya minta maaf ke KPU dan ke pemerintahan yang sekarang, maaf," kata Wahyu saat rilis.

Wahyu punya ilmu yang cukup di bidang IT karena merupakan seorang magister ilmu komputer. Polisi mengatakan Wahyu sengaja membuat hoax agar dianggap hebat dan ditarik menjadi salah anggota tim IT paslon capres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Rickynaldo menyampaikan masih ada lagi seorang yang diperiksa terkait kasus ini. Dia adalah si perekam ucapan WN saat sedang melakukan presentasi dalam rapat koordinasi pemenangan paslon capres Prabowo-Sandiaga di kediaman mantan Bupati Serang Ahmad Taufik Nuriman.

Polisi menjerat Wisnu dengan Pasal 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana; dan/atau Pasal 45 ayat (3) jo Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Wahyu juga disangkakan Pasal 310 KUHP dan/atau Pasal 311 KUHP tentang Pencemaran Nama Baik dan/atau Pasal 207 KUHP tentang Penghinaan terhadap Penguasa, dalam kasus ini KPU. Penyidik memutuskan menahan Wahyu karena ancaman pidana di atas 5 tahun masa kurungan.

"Dengan ancaman hukuman pidana penjara setinggi-tinggginya 10 tahun dengan denda paling banyak Rp 750 juta," ujar Rickynaldo.


Polisi Tangkap Kreator Hoax "Server KPU Disetting Menangkan Jokowi":

[Gambas:Video 20detik]


(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed