DetikNews
Senin 27 Mei 2019, 15:26 WIB

Pasar Hewan Mau Ditutup, Dinas Ajukan Draf ke Pemkab

Pradito Rida Pertana - detikNews
Pasar Hewan Mau Ditutup, Dinas Ajukan Draf ke Pemkab Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Kementerian Pertanian memberikan rekomendasi untuk menutup sementara pasar hewan setelah munculnya kasus antraks. Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul telah berkoordinasi dengan Pemkab untuk menentukan kapan penutupan Pasar hewan dilakukan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto mengatakan pihaknya telah membuat draft terkait surat edaran Bupati menyikapi rekomendasi dari Kementan. Draft tersebut sudah diajukan ke Kepala bagian Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul untuk dipelajari.

"Sudah dimasukkan (draft terkait rekomendasi penutupan pasar hewan) ke sana (Kepala bagian Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul) dan saat ini sedang dikoreksi," ujarnya saat ditemui di Bangsal Sewoko Projo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Senin (27/5/2019).

Bambang mengatakan hasil koreksi draft tersebut nantinya berupa surat edaran bupati terkait menyikapi temuan bakteri antraks di RT 3, Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Namun Bambang belum bisa memastikan kapan draft tersebut selesai dikoreksi.

"Jadi yang jelas sudah diajukan dan saat ini tinggal menunggu bagaimana kebijakannya. Untuk kapan keluarnya kebijakan itu belum ya tahu, karena kan harus koordinasi dengan instansi terkait dulu seperti Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan)," ucapnya.

Sambil menunggu hasil koordinasi, Bambang menyebut saat ini petugas terus melakukan penyuntikan antibiotik terhadap hewan ternak di Dusun Grogol dan Dusun Tawarsari. Dia menyebut, hingga hari ini sudah ada 262 ekor sapi, 676 ekor kambing dan 9 ekor domba yang sudah disuntik antibiotik, dan upaya itu akan terus dilakukan petugas untuk mencegah penyebaran antraks.

"Selain itu kita juga masih menunggu hasil uji sampel tanah di beberapa titik yang dicurigai terdapat bakteri antrkas. Karena yang keluar hasil sampelnya baru untuk Semanu dan Nglipar, alhamdulilah hasil sampelnya negatif," katanya.

"Dan untuk hasil uji sampel tanah di Grogol baru keluar 1 yang positif kemarin (di RT 3, Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul), yang 4 sampel lainnya hasilnya belum keluar," imbuh Bambang.

Tak hanya itu, untuk mencegah penyebaran bakteri antraks di Gunungkidul, Dinas Pertanian dan Pangan telah melakukan sosialisasi ke sejumlah Kecamatan. Hasilnya sudah ada 3 Kecamatan yang berkomitmen untuk melakukan Koordinasi Informasi dan Edukasi (KIE) terkait antraks.

"Tadi malam di (Kecamatan) Purwosari, Panggang dan Saptosari sudah dilakukan sosialisasi lewat UPT Puskesmas di sana. Kemudian siang ini juga dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama di Kecamatan Saptosari terkait wilayah bebas antraks," pungkasnya.



(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed