DetikNews
Sabtu 25 Mei 2019, 04:17 WIB

Menemukan Semangat Saling Menghargai di MI Inklusi Keji Ungaran

Aji Kusuma Admaja - detikNews
Menemukan Semangat Saling Menghargai di MI Inklusi Keji Ungaran Anak berkebutuhan khusus di MI Inklusi Keji (Foto: Aji Kusuma/detikcom)
Kabupaten Semarang - Demi mewujudkan pemenuhan hak untuk mendapatkan akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), Madrasah Ibtidaiyah (MI) Keji, Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, membuka kelas inklusi.

Dalam kelas itu, ABK belajar dalam kelas yang sama dengan siswa reguler. Menurut Kepala Sekolah MI Keji, Supriyono, pihaknya menyelenggarakan pendidikan inklusi bagi ABK adalah upaya untuk mewujudkan kesetaraan hak pendidikan bagi setiap anak didik.

"Dalam kelas inklusi, anak-anak belajar saling menghargai. Mereka akan mengenal temannya yang berkebutuhan khusus sehingga di dalam kelas guru harus berperan ganda. Pertama, sebagai pendidik dalam hal akademik, yang kedua sebagai pendamping yang mengontrol proses sosial di dalam kelas," ujar Supriyono, Jumat (22/5/2019).
Menemukan Semangat Saling Menghargai di MI Inklusi Keji UngaranAnak berkebutuhan khusus di MI Inklusi Keji (Foto: Aji Kusuma/detikcom)

Total siswa berkebutuhan khusus di MI Keji berjumlah 23 Siswa. Dalam setiap tahun penerimaan siswa baru, MI Keji hanya menerima 2-3 siswa. Itupun harus mendaftar jauh-jauh hari bahkan sebelum pembukaan pendaftaran. "Kami terpaksa melakukan itu karena keterbatasan sebagai sekolah swasta," tegas Supriyono.


Meski dalam keadaan terbatas sarana dan tenaga guru, MI Keji tetap berupaya optimal memberikan pelayanan kepada siswa. Hal itu ia lakukan melalui metode-metode cara mendidik ABK yang ia didapatkan dari workshop dan konsultasi dengan psikolog anak.

"Tiap kelas disediakan dua guru, satu guru akademik dan satu guru pendamping yang akan memantau setiap siswa inklusi. Kami juga memiliki resource room, yakni ruang khusus untuk memberi pelayanan pendidikan tambahan dan terapi bagi siswa inklusi," ujar Supriyono.

Setiap siswa inklusi juga harus dicari bakat atau peminatan yang digemari. Nantinya, bakat atau peminatan itu yang akan kita kembangkan untuk meningkatkan kemampuan masing-masing anak.

"Kadang kalau sudah ketemu kemampuanya dan metode mengajar yang sesuai, anak-anak inklusi juga bisa berkembang. Misal kami memiliki murid slow learner yang ternyata suka main drum dan sekarang drum ini menjadi terapi bagi siswa tersebut," jelas Supriyono.
Menemukan Semangat Saling Menghargai di MI Inklusi Keji UngaranAnak berkebutuhan khusus di MI Inklusi Keji (Foto: Aji Kusuma/detikcom)


Salah satu guru pendamping MI Keji, Muhammad Ma'ruf, mengaku senang bisa mengajar siswa inklusi. Baginya, pengalaman mengajar siswa inklusi adalah pengalaman yang memberi pengayaan tersendiri bagi seorang guru.

"Saya dituntut lebih sabar dan lebih detail dalam mengenali siswa. Sebab mereka kan berbeda-beda ada yang tuna grahita, tuna rungu, slow learner dan juga ada yang mengalami talasemia. Kami harus mengecilkan potensi adanya jarak antara siswa reguler dengan siswa inklusi, jadi harus mendidik juga dari segi proses sosial," jelas Ma'ruf.

Ditemui secara terpisah, Kakankemenag Kabupaten Semarang, Muhdi, mengaku optimis MI Keji dapat terus berkembang dan menjadi acuan bagi sekolah lain untuk menyelenggarakan kelas inklusi.

"Kami merasa bangga dan hormat kepada pengelola MI Keji. Jika di sekolah lain ABK ditolak, tapi di MI Keji difasilitasi dan disetarakan dengan siswa reguler. Hal ini patut kita apresiasi dan semaksimal mungkin kita dorong untuk terus berkembang," tandas Muhdi.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed