detikNews
Jumat 24 Mei 2019, 16:58 WIB

Medsos Dibatasi, Pelaku Usaha Online di Pekalongan Merasa Mati Suri

Robby Bernardi - detikNews
Medsos Dibatasi, Pelaku Usaha Online di Pekalongan Merasa Mati Suri Pasar Batik Setono di Pekalongan (Foto: Robby Bernardi/detikcom)
Pekalongan - Pembatasan media sosial (medsos) oleh Pemerintah sejak Rabu (21/5) lalu berdampak panjang bagi para pegiat usaha jual-beli online. Pedagang online di Pekalongan mengeluhkan omzetnya turun drastis karena sarana promosi mereka sulit diakses.

Nurokhman (48) pedagang batik di Grosir Setono Pekalongan, mengaku sejak beberapa hari ini hampir dipastikan orderan batik menurun. "Kita jualan batik tidak saja di pasar sini, namun juga memanfaatkan sosial media. Saat ini kacau sosial media susah sekali akses masuknya," kata Nurokhman, Jumat (24/5/2019).

Padahal, selama ini justru melalui bisnis online inilah dirinya mengandalkan dagangan batiknya. "Kalau pasar ini ya nanti saat arus mudik-balik ramainya. Selama ini kita mengandalkan orderan dari online. Apalagi jelang lebaran permintaan meningkat via online," jelasnya.


Nur mengatakan selama tiga hari terakhir sepi order karena calon pembeli tak bisa memilih barang baik bentuk maupun warnanya karena sarana promosi tak bisa diakses. "Kami anjlok orderan sampai 60 persen," harapnya.

Selain Nurokhan, pedagang online ainnya juga mengalami hal yang sama. Mereka kebanyakan sepi orderan sejak adanya pembatasan akses ke sosial media. Taufik Hidayat, Owner Gjava Wedang Indonesia, menilai pembatasan akses medsos membuat limbung usahanya.

"Ibaratnya kita kehilanga arah. Toko kita seakan-akan ditutup. Dibuka tidak bisa, orang yang mau melihat barangpun susah," kata Taufik Hidayat.

Apalagi produknya tidak hanya satu kemasan saja. Taufik mengaku produknya yang berupa aneka racikan rempah minuman tradisonal, sulit diakses oleh langgananya. "Biasanya kita komunikasi melalui facebook, instagram maupun pesan di WhatsApp. Namun sulit semua mereka susah memilih produk kita," katanya.


Menurut Taufik dalam sepekan biasanya bisa kirim minimal 200 pack namun dalam beberapa hari ini hanya bisa 50 pack.

"Itupun order terlambat masuk. Biasanya mereka pesan hanya beberapa menit atau detik ini baru bisa kita akses satu sampai dua hari," kata Taufik.

Hal yang sama dialami oleh Umam (38), seorang pengusaha pakaian melalui online. "Jelas Berpengaruh. Karena bisnis online kan mengandalkan chat dan kirim gambar-gambar produk. kalau gak bisa diakses gimana kita mau jualan," katanya.



Simak Juga 'BPN Kritik Pemerintah yang Batasi Medsos, TKN Sebut Drama Berlanjut':

[Gambas:Video 20detik]


(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed