DetikNews
Kamis 23 Mei 2019, 19:44 WIB

Bakteri Antraks di Gunungkidul Diduga Berasal dari Luar Daerah

Pradito Rida Pertana - detikNews
Bakteri Antraks di Gunungkidul Diduga Berasal dari Luar Daerah Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Gunungkidul - Balai Besar Veteriner, Kementerian Pertanian Wates, Kulon Progo menilai bakteri antraks yang menjangkiti sapi di RT 3, Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul berasal dari luar Gunungkidul. Hal itu karena Gunungkidul menjadi perlintasan hewan ternak.

Kepala Balai Besar Veteriner, Kementerian Pertanian di Wates Kulon Progo, Bagoes Poermadjaja mengatakan pihaknya belum bisa memastikan dari mana bakteri antraks tersebut berasal. Namun, ia menduga bakteri antraks yang menjangkiti sapi di Dusun Grogol 4 dibawa dari luar Gunungkidul.

"Yang jelas (pemicu bakteri antraks) bukan dari Gunungkidul, karena Gunungkidul sempat (masuk wilayah) bebas dari antraks. Tapi kan Gunungkidul dikelilingi oleh daerah-daerah yang nggak bebas, yang positif (pernah ada temuan antraks) kalau di Jatim seperti Blitar, Pacitan, kemudian Sragen, Wonogiri dan terakhir di Kulon Progo (DIY)," ujarnya saat ditemui di kompleks perkantoran Pemkab Gunungkidul, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Kamis (23/5/2019) sore.

"Karena dikepung daerah-daerah itu (pernah ada temuan bakteri antraks), kemungkinan besar (bakteri antraks berasal) dari lalu lintas ternak di Gunungkidul. Karena itu memang harus perketat lalu lintas ternak, baik keluar dan masuk di Gunungkidul," imbuh Bagoes.

Menurutnya ciri-ciri hewan ternak yang terindikasi antraks adalah mati mendadak dan setelah dibersihkan terdapat pembesaran pada limfanya. Selain itu, beberapa ciri fisik seperti mengalami demam dan kejang.

"Mungkin tidak terdeteksi, tahunya pagi sehat tahu-tahu sore sudah mati. Terus kalau ternak yang mati itu mengeluarkan darah tidak beku dari lubang-lubang alami seperti hidung dan anus jangan dipotong (sembelih) apalagi diedarkan, karena kemungkinan besar, salah satunya (terkena) antraks," katanya.

"Karena apa? Sapi yang mati karena anthrax darahnya tidak beku dan pas dibawa dengan kendaraan darahnya pasti berceceran di sepanjang jalan," imbuh Bagoes.

Selaim itu, Bagoes juga menyebut bahaya mengkonsumsi daging yang terkena bakteri antraks. Mengingat bukan tidak mungkin usai mengkonsumsi daging tersebut yang bersangkutan tertular bakteri antraks.


"Kalau (daging terkena bakteri antraks) dikonsumsi ya berbahaya, fatal itu dan kemungkinan bisa tertular. Karena daging yang disembelih kemarin (di Dusun Grogol) ada yang dijual, kita juga sudah melacaknya dan informasi terakhir kemarin sudah sampai Wates," katanya.

"Terus kalau kita ke lokasi ditemukannya bakteri antraks juga berisiko tertular, tapi itu tergantung kekebalan (tubuh) masing-masing juga, karena kalau ada anthrax pasti ada (orang) yang kena dan yang tidak," imbuh Bagoes.

Kendati demikian, ia meminta masyarakat tidak perlu takut dan khawatir, karena Pemkab Gunungkidul telah bergerak cepat. Bahkan untuk memastikan penyebaran antraks, pihaknya telah mengambil dan tengah menguji beberapa sampel tanah di Desa Bejiharjo.

"Sampel tanah lain juga diambil dan diuji, hasilnya belum keluar. Kalau yang positif (terdapat bakteri antraks) baru 1 tempat (RT 3 Dusun 4 Grogol, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul)," pungkasnya.


(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed