DetikNews
Kamis 23 Mei 2019, 03:49 WIB

Round-Up

5 Sapi Positif Antraks di Gunungkidul, Warga Dicek Kesehatannya

Sukma Indah Permana, Sukma Indah Permana, Pradito Rida Pertana - detikNews
5 Sapi Positif Antraks di Gunungkidul, Warga Dicek Kesehatannya Foto: ilustrasi/thinkstock
Gunungkidul - Sebanyak lima ekor sapi di Gunungkidul mati positif terjangkit antraks. Dinkes Gunungkidul sedang melakukan penanganan agar antraks tidak menyebarluas.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto menjelaskan, kejadian berawal saat Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul mendapatkan laporan dari petugas lapangan terkait adanya 3 hewan ternak di Grogol 4 yang mati mendadak.

Sedangkan 2 hewan ternak lagi tiba-tiba lemas dan tidak bergerak seperti biasanya. Mendapat laporan itu petugas langsung ke lokasi dan melakukan pengecekan.

"Setelah itu teman-teman dari seksi kesehatan mengecek dan mengambil sampel tanah untuk dikirim ke Balai Besar Veteriner di Wates (Kulon Progo). Di sana (Balai Besar Veteriner) sampel diuji laboratorium dan ternyata hasilnya positif mengandung spora antraks," ujarnya saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Rabu (22/5/2019).


Lanjutnya, mendapat temuan itu pihaknya langsung melaporkan kepada Bupati, Sekda dan pihak-pihak terkait langkah penanganan. Hasilnya, terbentuk 5 tim gerak cepat dan 1 tim surveilance terdiri dari dokter hewan dan paramedis.

"Jadi total hewan ternak yang mati 5 ekor, mati dan sembelih di kandang 3 ekor, yang 2 ekor ambruk terus dijual dalam kondisi hidup, sapi semua itu. Terus hasil surveillance kemarin ketemu 2 ekor kambing mati tapi sudah dikubur," ucapnya.

"Dari Kementerian Pertanian, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah turun kemarin siang dan membawa vaksin 2500 dosis dan 48 botol antibiotik. Dan sampai kemarin hewan ternak hidup yang sudah disuntik antibiotik ada 90 ekor sapi dan 249 ekor kambing, hari ini juga dilanjutkan penyuntikan dan surveilance lanjutan, pokoknya kita gerak cepat," imbuh Bambang.

Selain itu, saat ini pihaknya tengah menunggu Balai Besar Veteriner untuk melakukan pengambilan sample susulan di RT 3 Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Sembari menunggu pengambilan sample tanah, pihaknya saat ini terus melakukan penyemprotan disinfektan pada tanah di lokasi kejadian.


"Balai Besar Veteriner sudah turun ke lokasi untuk melihat dan mengambil sample ulang lagi. Karena yang namanya antraks penularannya lewat tanah, selaim itu kami juga lakukan penyiraman disinfektan berupa formalin di lokasi yang terindikasi tertular (antraks)," ujarnya.

Bambang menambahkan, terkait adanya temuan hewan ternak yang terkena antraks, ia meminta masyarakat untuk tetap tenang.

"Yang jelas masyarakat tidak usah panik, tenang saja, karena kemarin kami sudah melakukan antisipasi. Dan tim saat ini terus bergerak untuk melakukan surveillance," ucapnya.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat, Retno Widyastuti menambahkan, bahwa 2 sapi yang terkulai lemas ternyata sudah dijual dan disembelih di jagal sapi daerah Karangmojo.

"Untuk sample yang positif (antraks) itu yang sample tanah untuk menyembelih 3 sapi dekat kandang milik warga. Kalau tanah di tempat jagal Karangmojo yang untuk menyembelih 2 sapi itu negatif dan 3 sampel lain baru kirim kemarin," katanya.

Karena masih terdapat hewan ternak hidup di RT 3 Dusun Grogol 4, pihaknya melakukan pengendalian dengan membatasi keluar masuk hewan ternak dari dan ke Bejiharjo. Hal itu agar penyebaran antraks tidak meluas ke wilayah lain.

"Caranya adalah pembatasan keluar masuk ternak di wilayah tertular itu, khususnya di (Desa) Bejiharjo, (Kecamatan) Karangmojo. Karena karena kalau dikeluarkan nanti takutnya bisa menular," ucapnya.

"Karena itu, saat ini semua hewan ternak tetap kami suntik, dan baru boleh keluar kalau sudah divaksinasi dan kondisi sudah membaik," imbuhnya.

Hal itu karena penyebaran antraks adalah melalui spora kecil yang bisa menempel pada adapun seperti sepatu, pakan, ban dan benda lainnya. Karena itu, pihaknya akan mencanangkan program guna mencegah penyebaran antraks melalui tanah.

"Kalau sudah jadi spora kecil sekali itu bisa nempel pada apapun, jadi misal ke lokasi sepatu harus didisinfektan dengan formalin. Apalagi spora itu awet di tanah 80 tahun lamanya. Jadi kedepannya ada program tanah yang habis dipakai menyembelih sapi akan disemen agar spora terhenti, itu langkah pencegahannya," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty menambahkan, warga yang sempat kontak langsung dengan sapi-sapi tersebut juga dicek kesehatannya.

"Sampai saat ini belum ada yang dipastikan terkena antraks pada manusia (di Dusun Grogol 4). Tapi kami prepare (melakukan persiapan) dengan meminta orang-orang di sana, khusunya yang kontak dengan sapi mati kemudian ada kelainan di kulit untuk dikumpulkan dan diambil sampel," jelasnya.

"Hasilnya ada tiga orang yang dikumpulkan tadi dan yang diambil samplenya hanya satu orang karena ada luka, lainnya hanya kami periksa saja. Selanjutnya, sampel yang diambil itu akan dikirim untuk diperiksa apakah mengandung antraks atau tidak, jadi belum ada yang dipastikan terkena (antraks)," imbuh Dewi.

Lanjut Dewi, hasil sampel tersebut bisa keluar beberapa hari lagi. Selain itu, pengumpulan orang dan pengambilan sampel bukan bermaksud membuat masyarakat khawatir. Namun agar bisa dipastikan tak ada warga yang terjangkit antraks.

"Meski secara klinis kami meragukan (1 orang yang diambil sampelnya kena antraks), tapi secara klinis kami tidak mau terlewat. Karena salah satu gejala antraks adanya luka, dan kita tidak mau terlewat. Pokoknya begitu ada luka terbuka itu, (sampel) kita ambil," ucap Dewi.

Menurut Dewi, penularan antraks dapat melalui kontak antara tanah dan luka. Selain itu, penularan antraks bisa melalui selaput lendir dan memakan daging yang mengandung antraks.

"Bisa jadi dari tanah dan kena luka lalu kena antraks, tapi bisa disembuhkan pakai antibiotik. Tapi sapi yang terkena (antraks) juga diobati juga agar tidak menular," ujarnya.

"Karena kalau dibiarkan nanti bisa menyerang organ-organ di dalam tubuh lalu menyebabkan kegagalan organ," imbuhnya.
(sip/)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed