DetikNews
Rabu 22 Mei 2019, 14:51 WIB

Ditemukan Makanan dengan Kandungan Pewarna Berbahaya di Kudus

Akrom Hazami - detikNews
Ditemukan Makanan dengan Kandungan Pewarna Berbahaya di Kudus Sidak makanan dengan bahan berbahaya di Kudus. Foto: Akrom Hazami/detikcom
Kudus - Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah toko makanan ringan dan supermarket. Hasilnya, petugas menemukan makanan dengan kandungan pewarna bahaya.

Temuan makanan dengan kandungan pewarna bahaya mereka pergoki saat sidak ke salah satu toko pusat makanan ringan di tepi jalan raya Desa Panjang, Kecamatan Bae.

"Banyak yang mengandung bahan berbahaya seperti warnanya terlalu ngejreng-ngejreng itu," kata Suharto, Kasie Promosi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kudus membeberkan temuannya ditemui usai sidak di depan toko di Desa Panjang, Bae, Rabu (22/5/2019).

Pantauan di lokasi toko itu, beragam jenis makanan ringan yang biasa diburu warga ketika mendekati Lebaran, terpajang di rak dan di tumpukan. Seperti keripik, rempeyek, kacang, kue kering dan lainnya. Suharto bersama petugas meneliti beberapa jenis makanan ringan.

Suharto melihat produk makanan ringan di rak tak ada label izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) di bungkus. Dia bolak-balik kemasannya, ternyata memang tidak ditemukan label izin PIRT.

"Ini harusnya ada PIRT -nya. Kalau tidak, kasihan masyarakat yang membelinya," celetuk Suharto di hadapan pengelola toko, Sarjono.

Suharto bersama tim memergoki tumpukan makanan ringan berwarna kuning menyala, merah muda, dan oranye. "Ini jelas warnanya pakai warna berbahaya. Makanan warnaya ngejreng begini, pasti warnanya bukan alami," reaksinya terus mengamati produk itu berkali-kali.

Pada kemasan makanan dengan warna menyala itu memang tertera label PIRT. Hanya tidak ada bahan komposisi pembuatan makanan termasuk pewarna yang dipakai. Bahkan, untuk makanan warna merah muda, seorang petugas dinas spontan mengambil sandal berwarna serupa di kardus tepi rak.

"Pink -nya makanan sama dengan warna sandal ini," ungkap seorang petugas dari tim pemantau, Teddy.

"Masih ditemukan makanan ringan tak berlabel, tak ada PIRT, belum dikasih expired-nya (masa berlaku)," beber Suharto lebih lanjut.

Menurutnya, jumlah makanan ringan bermasalah itu tidak begitu banyak. Karenanya, Dinas Perdagangan mengimbau pemilik toko atau pengelola selektif dalam menjual barang makanan.

"Kami mengimbau agar pengelola toko untuk selektif dalam menerima barang. Yang diterima itu barang-barang yang betul memenuhi syarat. Sudah ada PIRT, ada komposisi. Ada masa expired-nya," jelas Suharto.

Sehingga saat dikonsumsi, kata dia, masyarakat lebih aman, lebih higienis, dan tidak akan menimbulkan gejolak apa-apa.

"Kami tidak menyita, hanya pembinaan saja. Biar nanti ke depannya, para pengusaha itu lebih hati-hati dalam memproduksi. Tidak menggunakan bahan berbahaya, memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah," pungkasnya.

Pengelola toko, Sarjono, mengaku pihaknya akan mengembalikan barang atau makanan yang bermasalah di tokonya.

"Saya akan kembalikan ke penyetor. Saya akan sampaikan ke mereka untuk melengkapi aturan produk," kata Sarjono di hadapan petugas.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed