DetikNews
Minggu 19 Mei 2019, 21:28 WIB

Ditolak Warga Jadi Kepala Dukuh, Yuli Tak Merasa Dendam

Pradito Rida Pertana - detikNews
Ditolak Warga Jadi Kepala Dukuh, Yuli Tak Merasa Dendam Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom
Bantul - Yuli Lestari (41), warga Dusun Pandeyan, Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul ditolak warganya sendiri saat lolos tes pengisian jabatan kepala dukuh. Beberapa ketua RT pun sempat ada yang mendur pasca Yuli dilantik.

Namun Yuli mengaku tidak merasa dendam dengan hal itu. Ia mengaku heran dengan penolakan itu karena lolos tes dan memenuhi syarat. Ia juga sudah mengikuti peraturan yang berlaku, baik mengumpulkan syarat dan mengikuti tes hingga hasilnya menempatkan Yuli di peringkat teratas.

"Terus kalau bermasalah kok pas daftar (Dukuh) Pansel tidak nolak. Dan salahku kalau perempuan apa, wong syarat tak ikuti semua dan tes imut hasilnya ranking pertama," ungkap Yuli detikcom di kediamannya, RT.1 Dusun Pandeyan, Desa Bangunharjo, Kabupaten Bantul, Minggu (19/5/2019).

Ia menceritakan dirinya juga sempat bertanya kepada saudaranya, apa dasar penolakan itu. Ada yang yang bilang Yuli, seorang perempuan dan galak.

"Katanya karena saya perempuan, galak, dianggap tidak melayani masyarakat karena suami saya Ketua RT 1 susah dimintai minta tanda tangan dan dianggap saat RT 1 dapat pemberitahuan PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap) tidak disampaikan warga RT 1," urainya.

"Kalau masalah PTSL saya tidak tahu karena saya bukan pokmas (Kelompok masyarakat), terus kalau galak saya itu galak apa, wong belum jadi Dukuh. Apalagi saya ini guru dan punya murid TK 96 anak, kalau saya galak ya pada pergi mas murid saya itu," tuturnya.

Selain penolakan melalui spanduk, Yuli mendengar ada segelintir orang yang mencoba mengumpulkan 500 tanda tangan dan membuat surat penolakan yang ditujukan ke Lurah dan Camat. Menurutnya, hal itu agar sang peringkat 1 tidak jadi dilantik karena bermasalah dan sebagai gantinya peringkat 2 yang dilantik menjadi Dukuh Pandeyan.

"Setahu saya kalau tidak dilantik itu karena melanggar hukum, dan kalau nggak kriminal kan no problem. Terus ada kabar juga kalau mereka juga mau demo saat pelantikan saya," ujarnya.

Bahkan, beberapa jam sebelum pelantikan ia sempat mendapat hal yang kurang menyenangkan. Padahal saat itu ia hanya berada di rumah bersama anak bungsunya.
Dukuh pandeyan, Sewon BantulDukuh pandeyan, Sewon Bantul Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom

"Jumat sekitar jam 11 ada orang lewat depan rumah saya dan bleyer-bleyer motor kenceng banget sambil melempari kertas. Karena itu saya kabari suami saya dan bilang kakak saya yang polisi, akhirnya saya diantar suami dan kakak terus dilantik hari Jumat (17/5/2019). Alhamdulillah pelantikan berjalan lancar," ujarnya.

Masalah tidak berhenti sampai di situ saja, usai pelantikan dirinya ternyata ada 4 Ketua RT yang mengaku mengundurkan diri dari jabatannya. Hal itu sebagai wujud penolakan Yuli sebagai Dukuh Pandeyan.

"Karena itu saya coba datangi mereka satu persatu, pas saya datangi ternyata (Ketua) RT 4 dan RT 5 tidak mundur. Mereka tanda tangan surat penolakan karena tidak enak saja sama yang mendatangi, jadi yang mundur hanya (Ketua) RT 2 dan RT 3 saja," ujarnya.

"Sebab yang paling kekeh menolak 2 RT itu, kalau yang (Ketua) RT 3 saya maklum karena menantunya ranking 2 saat tes kemarin. Kalau RT 2 karena mereka itu solid sama RT 3 jadinya ikut menolak," imbuhnya.

Meski mendapat penolakan, Yuli mengaku tidak menyimpan dendam dan kedepannya akan menemui Ketua RT 2 dan RT 3 untuk membicarakan masalah pengunduran diri dan penolakan terkait dirinya menjadi Dukuh Pandeyan.

"Saya tidak dendam kok mas, dan rencana habis lebaran mau saya temui mereka. Karena harus bertahap dan saat ini kan situasinya masih panas," pungkasnya.

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed