DetikNews
Kamis 25 April 2019, 18:55 WIB

Khidmatnya Laku Lampah Puluhan Km Warga Adat Bonokeling Sambut Ramadan

Arbi Anugrah - detikNews
Khidmatnya Laku Lampah Puluhan Km Warga Adat Bonokeling Sambut Ramadan 'Laku Lampah' Masyarakat Adat Bonokeling sambut Ramadan, Banyumas. Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas - Dengan pakaian khas adat Jawa, ratusan penganut kejawen melakukan 'laku lampah' atau berjalan kaki untuk mengikuti prosesi 'unggahan' di makam Bonokeling di Desa Pakuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas hari ini. Kegiatan ini menjadi penanda ritual menyambut Bulan Ramadan.

Panas terik dan beratnya pikulan tak dirasakan oleh Bento (50), salah seorang warga Kelurahan Tambakreja, Cilacap yang berjalan puluhan kilometer bersama ratusan masyarakat adat Bonokeling menuju makam leluhur mereka, Kamis (25/4/2019).

"Sudah sejak umur 17 tahun jalan kaki seperti ini. Ini untuk menjaga tradisi dan menghormati leluhur," kata Bento kepada wartawan.

Sementara menurut Mbah Nirwan (63) yang diutus sebagai penerima tamu mengatakan jika masyarakat adat Bonokeling tersebut hingga saat ini masih mempertahankan tradisinya dengan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer secara rombongan dengan memikul hasil bumi. Hingga kini pengikut Bonokeling tercatat lebih dari 5 ribu orang yang tersebar di sejumlah Kecamatan di Cilacap seperti Adipala, Kroya, Sidareja.

"Seminggu sebelum memasuki bulan puasa, anak putu atau yang biasa disebut anak-cucu trah Bonokeling menjalani laku lampah. Laku lampah mewajibkan setiap anak-putu trah Bonokeling dari berbagai wilayah untuk berjalan kaki sejauh lebih dari 50 kilometer ke Desa Pekuncen," jelasnya.

'Laku Lampah' Masyarakat Adat Bonokeling sambut Ramadan, Banyumas.'Laku Lampah' Masyarakat Adat Bonokeling sambut Ramadan, Banyumas. Foto: Arbi Anugrah/detikcom


Sesekali mereka beristirahat sambil melepas lelah di bawah pohon rindang sambil merebahkan badan hingga saatnya melanjutkan perjalanan. Jalan berliku serta menanjak tak menjadi halangan bagi mereka.

Saat memasuki perbatasan Kabupaten Cilacap dan Banyumas, mereka kembali beristirahat, semua hasil bumi yang dipikul kaum lelaki diserahkan kepada para bedogol atau pembantu juru kunci atau pemimpin kelompok dalam Bonokeling. Setelah itu para anak putu dari Desa Pakuncen akan mengambil alih pikulan tersebut dan membawanya sambil berjalan kaki kembali menuju rumah adat sebagai tempat prosesi unggahan.

Sementara anak putu Bonokeling dari berbagai wilayah beristirahat, para bedogol melakukan seserahan.

'Laku Lampah' Masyarakat Adat Bonokeling sambut Ramadan, Banyumas.'Laku Lampah' Masyarakat Adat Bonokeling sambut Ramadan, Banyumas. Foto: Arbi Anugrah/detikcom


"Para tamu yang datang dari Cilacap akan istirahat semalam di Pekuncen. Acara puncak adat, Unggahan atau Nyadran, yakni berziarah ke makam Ki Bonokeling dilaksanakan pada Jumat (26/4)," ujarnya.

Usai acara ritual puncak unggahan, biasanya akan dilangsungkan rikat akhir membersihkan lokasi makam Ki Bonokeling. Setelah itu mereka akan pulang ke rumah masing-masing untuk menanti datangnya bulan suci Ramadan.

'Laku Lampah' Masyarakat Adat Bonokeling sambut Ramadan, Banyumas.'Laku Lampah' Masyarakat Adat Bonokeling sambut Ramadan, Banyumas. Foto: Arbi Anugrah/detikcom

"Trah Bonokeling merupakan masyarakat adat Islam kejawen. Mereka hanya mengenal hisab berdasarkan almanak Jawa Alif Rebo Wage (Aboge) sebagai penentu hari besar keagamaan," jelasnya.

Di Desa Pekuncen sendiri, setidaknya terdapat sekitar 2.000 anak putu Bonokeling. Sedangkan di Desa Adiraja, Kecamatan Adipala, terdapat 13 bedogol, yang masing-masing membawahi Trah Bonokeling. Kurang lebih 3.000 lebih trah Bonokeling akan mengikuti acara adat Unggahan di Desa Pakuncen.
(arb/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed