DetikNews
Minggu 21 April 2019, 17:21 WIB

Jelang Puasa, Warga Jepara Buat Kerupuk Puli Ala Sunan Kalijaga

Wikha Setiawan - detikNews
Jelang Puasa, Warga Jepara Buat Kerupuk Puli Ala Sunan Kalijaga Foto: Wikha Setiawan/detikcom
Jepara - Nisfu Sya'ban yang jatuh pada tanggal 15 bulan ke depalan tahun Islam menjadi momentum tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Jepara. Biasanya, diperingati dengan tradisi baratan di malam hari.

Tradisi baratan sendiri sebagai ungkapan syukur masyarakat Islam menyambut hari keberkahan atau dalam bahasa Arab bara'ah. Hal itu juga diyakini sebagai hari pengampunan dosa.

Selain itu, Baratan juga berkait erat dengan Ratu Kalinyamat. Sehingga, malam Nisfu Sya'ban dimeriahkan dengan festival arak-arakan Ratu Kalinyamat.

Ada hal yang lain dalam peringatan Nisfu Sya'ban hampir di tiap daerah di Kabupaten Jepara. Yakni adanya kerupuk puli atau yang disebut kerupuk gendar.

Kerupuk puli ini diyakini masyarakat peninggalan dari Sunan Kalijaga untuk menyatukan umat pada saat itu.

Puluhan emak-emak di Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara misalnya, bersama-sama membuat kerupuk puli di balaidesa.

Mulai dari memasak beras, memberi obat bleng, menumbuk dan menggorengnya. Rencananya, kerupuk puli itu akan dikirab nanti malam bersama dengan beebagai macam replika perahu, raksasa, mobil, dan hewan ternak.
Warga Jepara membuat kerupuk puli jelang puasaWarga Jepara membuat kerupuk puli jelang puasa Foto: Wikha Setiawan/detikcom

KH Abdul Gofur, pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Kendengsidialit menuturkan bahwa Sunan Kalijaga ingin mempersatukan umat Islam dan non muslim saat itu dengan momentum Nisyfu Sya'ban.

Semua orang diajak memasak nasi yang diberi kunyit, garam dan bonggol serai, yang kemudian dikenal saat ini kerupuk puli.

"Jadi, kerupuk puli menjadi hidangan utama saat peringatan Nisfu Sya'ban. Itu karena kaitannya dengan Sunan Kalijaga yanh ingin mempersatukan umat," ujarnya kepada detikcom, Minggu (21/4/2019)

Sebelum menyantap kerupuk puli, warga biasaya berkumpul di suatu tempat untuk melangsungkan doa bersama.

"Iya, baca surat yasin dan tahlilan secara bersama-sama. Kadang di masjid, musala, atau di balaidesa," paparnya.

Sementara, Kepala Desa Kendengsidialit, Kahono Wibowo menyampaikan, tradisi baratan itu dilakukam rutin tiap tahun dalam memperingati hari Nisfu Sya'ban.

"Ini momem kita bersama untuk berdoa demi kesejahteraan dan kerukunan warga. Selaib membuat kerupuk puli, juga diadakan kirab di malam hari," tuturnya.

Dia berharap, tradisi yang menjadi peninggalan leluhur tetap dilestarikan.

"Kami sediakam 200 kilogram beras untuk buat puli. Harapannya tradisi yang baik terus dapat dilestarikan," tandas dia.

(bgk/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed