DetikNews
Minggu 13 Januari 2019, 11:01 WIB

Eks Petinggi NII: Banyak Radikalis 'Berjuang' dengan Baju Ormas

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Eks Petinggi NII: Banyak Radikalis Berjuang dengan Baju Ormas Ken Setiawan (Foto: Muchus Budi R/detikcom)
Solo - Pendiri NII Crisis Center yang juga merupakan mantan Komandan NII, Ken Setiawan, mengingatkan agar publik tidak terlena dengan bahaya radikalisme bersembunyi di balik berbagai ormas.

"Hari ini mereka memang kelihatan tidak ada kegiatan dan sepi pemberitaan, tapi justru kondisi ini yang dimanfaatkan betul oleh kelompok radikal," ujar Ken dalam perbincangan di Solo, Minggu (13/1/2019).

ken mengatakan jika ada ormas sedang mengkritisi pemerintah, para radikalis itu akan turut menjadi bagian agar suasana menjadi keruh supaya masyarakat tidak percaya dengan pemerintah yang dinilai gagal dalam menjaga kondusifitas keamanan.

"Jadi kini walaupun berbeda nama organisasinya tapi ketika punya tujuan yang sama dalam mengkritisi dan menghujat pemerintah maka mereka akan turun bersatu dalam aksi," ujarnya.


Para radikalis tersebut, kata Ken, saat ini tidak banyak mengusung tema penegakan negara islam atau khilafah Islam, namun lebih kepada organisasi dan pemberdayaan sentra ekonomi. Dengan organisasi itu, mereka merasa lebih aman karena tidak berbenturan dengan aparat keamanan.

"Kalau frontal dengan isu penegakan negara Islam atau khilafah Islam mereka mudah terdeteksi, apalagi kondisi politik hari ini sangat tidak mendukung karena tidak ada capres yang menyuarakan konsep negara islam atau khilafah islam," lanjutnya.

Ken menyebutkan ormas-ormas lama yang lagi sehingga patut diwaspadai. Di antara yang disebutnya adalah Negara Kurnia Allah (NKA), Millah Ibrahim, Lembaga Kerasulan, Isa Bugis, Islam Shahadat, Alquran Suci, Showah Al Islamiyah dan Kesatuan Al Haq. Mereka sering membuat kegiatan sosial, bimbingan belajar, majelis taklim, hingga takmir masjid.


Kelompok kelompok tersebut kini lebih aktif di organisasi, mereka membuat kegiatan positif dimasyarakat, seperti kerja bakti, donor darah, pelatihan dna bimber, mereka masuk sekolah dan masuk kampus, bahkan mereka kini menyusup lewat majlis taklim.

"Sekarang mereka masuk kalangan milenial dan berpakaian seperti kaum milenial. Mereka menggunakan konsep taqiyah atau siasat yang terpenting bagi mereka adalah misi tercapai. Dengan merubah pola, kini gerakan kelompok radikal lebih susah dideteksi, karena dengan organisasi yang legal kita susah mencari celah peyimpanganya.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed