DetikNews
Minggu 13 Januari 2019, 09:06 WIB

BPN Merasa Dikirimi Bunga Lelayu, TKN: Tersirat Sudah Putus Asa

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
BPN Merasa Dikirimi Bunga Lelayu, TKN: Tersirat Sudah Putus Asa Karangan bunga PDIP untuk posko Prabowo di Solo (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Djoko Santoso menganggap karangan bunga yang dikirim PDIP saat pembukaan posko Prabowo-Sandi di Solo sebagai sindirian agar timnya segera mati. Tim Kampanye Nasional (TKN) menilai respons tersebut menunjukkan BPN sudah putus asa dan hendak berpamitan.

"Tafsiran Djoko Santoso bahwa karangan bunga kiriman dari PDIP sebagai harapan agar pihaknya mati, terkesan menggelitik karena berbenturan dengan akal sehat," ujar Direktur Program Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Aria Bima, di Solo, Minggu (13/2/2019).

Seperi diberitakan sebelumnya BPN Prabowo-Sandi mendirikan posko di dekat rumah Jokowi di Solo, Jumat (11/1) lalu. Dalam acara itu. terlihat karangan bunga kiriman Posko PDIP Ranting Banjarsari yang memang lokasinya hanya berseberangan dengan lokasi posko BPN.


Karangan bunga dari PDIP menjadi satu-satunya karangan bunga yang ada di acara tersebut. Tertulis di papannya 'Selamat Atas Peresmian Kantor Pusat BPN Prabowo Sandi'. Tertulis, pengirim karangan bunga tersebut ialah Posko Pemenangan Pileg dan Pilpres, PDIP Ranting Banjarsari, Solo.

Di lura dugaan, Ketua BPN Prabowo-Sandi, Djoko Santoso yang hari ini hadir meresmikan posko, menganggap karangan bunga kiriman PDIP itu sebagai sindirian agar timnya segera mati.

"Enggak apa-apa, itu menunjukkan peradaban yang dia pertontonkan, supaya kita mati, iya kan?" ujar Djoko. "Kita lihat saja, rakyat sudah pinter kok, udah ada medsos, HP," lanjut Djoko saat itu.


Aria Bima yang juga politisi PDIP, menilai pengiriman karangan bunga oleh partainya sebagai apresiasi persahabatan terhadap kompetitor menghadapi kontestasi politik menjelang Pemilu 2019. Sejauh ini, kata Bima, dunia juga menganggap pengiriman bunga sebagai sebagai bentuk perhatian dan rasa hormat.

"Sebagaimana disampaikan oleh Shakespeare, say it with flower," ujar Bima.


"Karena itu dengan adanya tafsir lainnya, justru mengundang tafsir lainnya lagi yaitu jangan-jangan di balik tafsir kematian tersebut memang tersirat aroma keputusasaan dan pamit kepada rakyat," lanjutnya.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed