DetikNews
Minggu 07 Oktober 2018, 10:30 WIB

Tim Jokowi Ingin Menang Rekonsiliatif, Tak Seperti Pilpres 2014

Muchus Budi R. - detikNews
Tim Jokowi Ingin Menang Rekonsiliatif, Tak Seperti Pilpres 2014 Jokowi-Ma'ruf Amin (Foto: Mindra Purnomo)
Solo - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf menginginkan sebuah kemenangan rekonsiliatif bagi seluruh anak bangsa. Dengan menyandingkan Ma'ruf Amin sebagai cawapres, diharapkan keinginan itu bisa terwujud. TKN tak ingin kemenangan yang terjadi seperti ketika Pilpres 2014.

"Kita tidak ingin, proses Pemilu dan pascapemilu ini seperti tahun 2014. Pak Jokowi dengan Pak Jusuf Kalla menang, seolah-olah hanya presidennya, partai pengusung dan relawan (yang menang). Karena luka batin saat kampanye itu sudah terlalu dalam," ujar Direktur Program TKN Jokowi-Ma'ruf, Aria Bima, kepada wartawan di sela-sela acara sosialisasi 4 pilar kebangsaan di Solo, Sabtu (6/10/2018) malam.

Dengan memilih Ma'ruf Amin yang merupakan bagian dari kelomopok aksi 212 maupun 411 sebagai cawapres, TKN berharap rekonsiliasi itu nantinya akan lebih mudah terwujud. Meskipun diakui tidak semua kelompok aksi 212 atau 411 mendukung Ma'ruf Amin, namun pemerintahan mendatang diharapakn menjadi lebih sejuk karena ada konfigurasi baru yang lebih rekonsiliatif dan menjadi milik bersama.

"Untuk membangun Indonesia lebih maju, dibutuhkan kebersamaan semua pihak. Tidak mungkin bangsa ini maju, hanya dengan peran Jokowi-Ma'ruf Amin dan partai pengusung atau relawan. Namun juga dibutuhkan peran dari Prabowo-Sandiaga dan para pendukungnya," tegasnya.


"Kalau toh Insyaallah menang, itu hanya bisa diwujudkan secara bersama-sama. Pemilu selesai, kita rekonsiliasi batin, kita bareng-bareng. Pak Ma'ruf Amin akan merepresentarifkan figur untuk kawan-kawan yang dulu tidak terwakili dalam pemerintahan Jokowi," lanjut politisi muda PDI Perjuangan tersebut.

Karena itulah selaku direktur program TKN Jokowi-Ma'ruf, Bima mengaku telah berpesan kepada parpol pendukung dan relawan agar menyampaikan program kampanye yang sejuk. Kampanye Pilpres 2019 tidak boleh mengarah pada hal-hal yang menciptakan suasana permusuhan dan saling menjelekkan seperti yang terjadi pada Pilpres 2014 yang lalu.

"Pemilu itu lebih ke sebuah festival, kontestasi program, tidak (perlu) memunculkan sesuatu yang melukai hati kedua belah pihak. Isu-isu yang membuat luka batin, kita hentikan. Boro-boro hoax, kalau perlu negative campaign ga usah lah. Kita berpikir kontestasi ke depan agar negara lebih maju itu seperti apa. Walaupun negative campaign itu tidak dilarang, tapi lukanya dalam," katanya.
(mbr/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed