DetikNews
Rabu 25 April 2018, 16:18 WIB

Teliti Melasma pada Wanita, Betty Ekawati Raih Gelar Doktor di UGM

Usman Hadi - detikNews
Teliti Melasma pada Wanita, Betty Ekawati Raih Gelar Doktor di UGM Betty Ekawati Suryaningsih. Foto: Usman Hadi/detikcom
Sleman - Bercak hitam di wajah atau melasma kerap dijumpai pada pria maupun wanita dewasa. Melasma selama ini dikenal sulit disembuhkan.

Setelah diteliti, ternyata salah satu penyebab sulitnya melasma dihilangkan adalah karena faktor genetik. Hal tersebut dibuktikan Betty Ekawati Suryaningsih melalui disertasinya berjudul 'polimorfisme gen reseptor melanokortin-1 (MC1R) dan gen reseptor antagonis interleukin-1 (IL-1 RA) pada melasma studi pada populasi wanita suku Jawa di Yogyakarta'.

"Penelitian saya itu tentang melasma. Melasma yaitu suatu hiperpigmentasi yang sangat banyak terjadi pada wanita di Indonesia," jelas Betty sesuai ujian terbuka program doktor di Auditorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, Rabu (25/4/2018).

"(Melasma) biasanya mengenai pipi kanan-kiri, dan bisanya lebih banyak terjadi pada orang-orang yang berkulit cokelat. Nah, biasanya pengobatannya sangat sulit. Bahkan kadang-kadang membuat pasien itu merasa minder, tidak percaya diri," lanjutnya.

Betty menjelaskan, salah satu faktor mengapa dirinya meniliti melasma yakni karena ingin mengetahui penyebab melasma sukar dihilangkan. Setelah diteliti, ternyata salah satu penyebab melasma di wanita suku Jawa adalah karena faktor genetik.

"Kalau sudah ada faktor genetik, tentu akan mudah untuk mencegahnya. Jadi untuk mencegahnya dengan menggunakan tabir surya yang dipakai pagi hari. Jangan yang sembarangan, tapi tabir surya yang dikhususkan," ungkapnya.

Dalam penelitian ini, kata Betty, dirinya memang menfokuskan untuk meneliti wanita Suku Jawa dengan mengambil sampel wanita di Kota Yogyakarta. Meski demikian, lanjutnya, bukan tidak mungkin faktor genetik melasma juga dijumpai di suku-suku lainnya.

"Kalau melasma karena faktor genetik berarti itu (kelainan melasma) bisa diturunkan. Jika di dalam keluarganya ada yang kena melasna, pasti orang tersebut akan menjadi faktor resiko di bawahnya (keturunannya)," sebutnya.

Penelitian genetik ini diselesaikan Betty selama hampir 1,5 tahun. Setelah menyelesaikan penelitian tersebut, dia mengaku masih ingin melakukan penelitian ulang untuk mengetahui bagaimana cara menyembuhkan melasma.

"Perasaan saya senang (dapat gelar doktor). Tapi ada satu penelitian yang harus saya selesaikan lagi. Kalau saya sudah mengetahui faktor genetiknya, tentu saya juga harus tahu bagaimana cara untuk mengatasi kelainan ini," tutupnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed