DetikNews
Senin 05 Maret 2018, 16:02 WIB

Warga Lereng Menoreh Pasang 'Boplang' Untuk Deteksi Rekahan Tanah

Pertiwi - detikNews
Warga Lereng Menoreh Pasang Boplang Untuk Deteksi Rekahan Tanah Foto: Pertiwi/detikcom
Magelang - Warga yang tinggal di lereng perbukitan Menoreh Kabupaten Magelang setiap hari harus hidup dibawah ancaman potensi bencana tanah longsor. Kondisi tersebut memaksa mereka untuk berpikir dan berupaya agar bencana tidak sampai mengancam harta benda maupun jiwa.

"Kami berinisiatif memasang alat serupa boplang yang fungsinya sama dengan Early Warning System (EWS). Alat ini sederhana namun manfaatnya luar biasa karena bisa mendeteksi secara dini jika ada gerakan tanah," jelas Soim, Ketua Komunitas Garuda Bukit Menoreh (GBM) Salaman, Kabupaten Magelang, kepada detik.com di rumahnya, Senin (5/3/2018).

Dia menuturkan, ilmu pembuatan boplang tersebut didapatnya dari tim ahli geologi Jepang yang sempat berkunjung ke wilayah Salaman pada akhir tahun 2014 silam. Disana, tim melakukan penelitian terkait fenomena tanah retak yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

"Tim yang dari Jepang itu mengajari cara membuat alat pendeteksi dini retakan tanah namun yang sederhana, simpel, dan mudah dibuat oleh semua orang. Saya kemudian berinisiatif menerapkan alat itu di Desa Ngargoretno tahun 2017," ungkap Soim.

Boplang itu sendiri bentuknya sesuai dengan namanya. Yakni hanya berupa papan kayu yang dipatok di masing-masing sisinya, seperti ketika memasang boplang saat hendak membangun rumah.

Bedanya, boplang ini salah satu sisinya dipasang di tanah yang bergerak dan sisi lainnya di tanah yang tidak bergerak. Kemudian, tepat di bagian tengah papan dipotong sehingga potongan tersebut akan melebar jika terjadi rekahan.


"Pada papan tersebut juga kita berikan catatan tanggal dan panjang rekahan. Boplang ini harus dipantau setiap hari oleh pemasangnya sehingga bisa diketahui apakah ada gerakan atau tidak," urai Soim.

Meski tidak dilengkapi dengan sirine, namun fungsi boplang ini sama maksimalnya dengan EWS standar. Lantaran warga aktif melakukan pengecekan setiap hari, terutama ketika hujan melanda kawasan tersebut.

"Beda dengan EWS yang hanya dibiarkan saja, dan baru berbunyi ketika sudah terjadi gerakan tanah sehingga warga belum melakukan persiapan antisipasi," katanya.

Sejauh ini, sudah ada 6 boplang yang dipasang di dua desa, yakni di Desa Giripurno dan Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Boplang-boplang itu hanya dipasang di titik-titik yang sudah ada potensi rekahan tanah.

Ke depan, Soim mengaku berharap agar keberadaan boplang ini mampu tersosialisasikan ke seluruh warga yang tinggal di kawasan rawan bencana tanah longsor.

"Meskipun alat ini sederhana, terbuat dari kayu bekas, tapi alat ini sangat mudah dipahami. Apalagi rata-rata di setiap wilayah pasti ada tukang kayunya jadi pasti mengerti dan paham dengan istilah boplang," jelasnya.

Salah satu warga Desa Ngargoretno, Tugiran (48), menjadi salah satu korban longsor dan ancaman longsor lanjutan. Tanah di rumahnya sempat dipasangi boplang sebelum alat tersebut larut bersama material longsoran.

"Saat ini rumah masih terancam longsor susulan, ada EWS dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang sudah dipasang. Namun, untuk antisipasi, anak dan istri saya ungsikan ke rumah saudara kalau hujan turun," tuturnya.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed