DetikNews
Selasa 12 Desember 2017, 12:42 WIB

Terjadi di Karanganyar, 1 Penderita Difteri Akibat Tak Imunisasi

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Terjadi di Karanganyar, 1 Penderita Difteri Akibat Tak Imunisasi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karanganyar, Rita Sari Dewi. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Karanganyar - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar mencatat pernah menangani satu kasus penyakit difteri pada Juni 2017. Beruntung, korban dapat ditangani sebelum kondisinya memburuk.

Kasus tersebut menjadi pelajaran bagi Dinkes Karanganyar untuk semakin gencar menyosialisasikan imunisasi. Sebab, korban yang terserang difteri saat itu belum pernah diimunisasi.

"Dari kasus itu, saya minta orang tua jangan egois. Karena anaknya tidak pernah imunisasi jadi terkena difteri. Bahayanya bisa menyebabkan kematian dan menular," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karanganyar, Rita Sari Dewi saat ditemui wartawan di kantornya, Selasa (12/12/2017).

Dia mengatakan, corynebacterium diphtheriae atau bakteri penyebab difteri menyebar melalui udara. Daya tahan tubuh menjadi kunci utama untuk menangkal bakteri tersebut.

"Udara itu bakterinya komplet, kalau dalam kondisi tidak imun, orang pasti bisa sakit. Intinya jangan sampai nggak imunisasi, udah itu saja, kalau kebal nggak akan kena," ujarnya.

Dalam kasus tersebut, beruntung korban segera berobat. Setelah dokter memastikan korban terkena difteri, Dinas Kesehatan bisa langsung menghubungi Kementerian Kesehatan terkait penanganan lebih lanjut.

"Cara penyembuhannya dengan cara disuntik serum antidifteri. Serum antidifteri saat itu hanya ada di pusat, provinsi tidak punya, apalagi di Solo Raya," kata dia.

Penanganan penyakit difteri terbilang cukup mahal dan rumit. Sebab selain penyuntikan serum kepada korban, Dinas Kesehatan juga harus memastikan kondisi semua orang yang berinteraksi dengan korban tersebut sehat.

"Satu serum itu sekitar Rp 2,5 juta. Padahal satu korban nggak cukup satu serum, kemarin sampai empat disuntik sekaligus. Selain itu kita periksa orang-orang di dekatnya, keluarganya, gurunya, teman sekolah, ada nggak kuman difteri. Lalu kita kasih obat profilaksis agar kuman tidak merajalela," ucap Rita.

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak bepergian ke daerah yang terkena wabah difteri. Masyarakat juga diminta mengenali gejala difteri sedini mungkin dan segera berobat jika sakit.

"Kalau ada keluhan panas, sulit menelan, sakit tenggorokan, agak sesak napas, segera berobat. Selaput putih lama-lama bisa memenuhi amandel lalu tidak bisa bernapas, terpaksa leher dibolong agar bisa bernapas. Yang bahaya racunnya bisa menyebar ke jantung dan otak," katanya menjelaskan.

Rita mengajak masyarakat untuk saling mengingatkan keluarga, teman maupun tetangganya untuk melengkapi imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah.

"Seharusnya sejak bayi kan dapat imunisasi DPT, Hepatitis B, ada HI tipe B, polio, BCG, MR, sudah terlindungi dia. Lalu usia 18 bulan dapat booster, diulangi lagi imunisasinya. Nanti kelas 1 SD dapat, kelas 2 dapat lagi. Harusnya tidak kena difteri," tutupnya.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed