DetikNews
Senin 11 Desember 2017, 14:22 WIB

Begini Penjelasan PVMBG Soal Penyebab Tanah Bergerak di Purworejo

Rinto Heksantoro - detikNews
Begini Penjelasan PVMBG Soal Penyebab Tanah Bergerak di Purworejo Tim dari PVMBG Bandung meneliti tanah bergerak di Purworejo. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Purworejo - Fenomena tanah bergerak terjadi di beberapa kecamatan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Untuk meneliti penyebab dan penanganannya, tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung, Jawa Barat, terjun ke lapangan.

Siklon tropis Cempaka pada akhir November lalu telah mengakibatkan berbagai bencana termasuk tanah bergerak. Ratusan rumah di 13 desa dalam 5 kecamatan di Purworejo terancam rusak akibat fenomena tersebut.

Untuk mengetahui dan menganalisis risiko retakan tanah, BPBD Purworejo mendatangkan tim ahli pengkaji tanah retak dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Tim yang terdiri dari 4 orang tersebut langsung terjun ke wilayah yang terdampak tanah bergerak.

Ketua tim PVMBG, Anas Lutfi (59), ketika ditemui detikcom saat melakukan penelitian di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing mengatakan bahwa penyebab terjadinya tanah retak dan bergerak adalah curah hujan yang tinggi. Selain itu, struktur batuan di dalam tanah juga menjadi faktor lain penyebab tanah bergerak.

"Penyebab pertama memang faktor keairan yang diberi curah hujan tinggi, kemudian faktor batuan. Jadi ini ada 2 formasi batuan yang disebut formasi jonggrangan. Jadi di bawahnya ada lapisan batu lunak ada batu pasir, batu lempung, nah itulah sebenarnya yang menjadikan tanah mudah bergerak," ungkap Anas, Senin (11/12/2017).

Tim dari PVMBG Bandung meneliti tanah bergerak di Purworejo.Tim dari PVMBG Bandung meneliti tanah bergerak di Purworejo. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Anas melanjutkan bahwa jenis gerakan tanah tersebut adalah jenis rayapan. Meskipun pelan, namun struktur tanah selalu bergerak sehingga menyebabkan tanah retak dan rumah warga ikut rusak.

"Jenisnya rayapan, jadi bergeraknya pelan-pelan tapi pasti bergerak terus dia, akhirnya membawa batuan gamping di atasnya dan rumah-rumah yang ada di atasnya sini ikut bergerak," imbuhnya.

Tim dari PVMBG Bandung meneliti tanah bergerak di Purworejo.Tim dari PVMBG Bandung meneliti tanah bergerak di Purworejo. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Kepala Desa Donorejo, Suparman (50) menambahkan bahwa peristiwa tanah bergerak sebelumnya pernah terjadi pada tahun 2014 lalu. Namun, retakan tanah saat itu tidak terlalu parah dan tidak merusak rumah warga.

Hujan diprediksi masih akan turun hingga Januari 2018. Masyarakat diimbau tetap berhati-hati dan waspada, terutama yang berada di daerah retakan tanah bergerak atau daerah rawan bencana lainnya.

"Dulu pernah kejadian tanah bergerak sekitar tahun 2014, namun tidak parah seperti ini tidak sampai merusak rumah. Kalau yang sekarang kan lebih parah," tutur Suparman.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed