DetikNews
Rabu 06 Desember 2017, 18:06 WIB

Melihat Manfaat Gas Metan Sampah, Bahan Bakar Alternatif di Brebes

Imam Suripto - detikNews
Melihat Manfaat Gas Metan Sampah, Bahan Bakar Alternatif di Brebes Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Gandasuli, Brebes. Foto: Imam Suripto/detikcom
Brebes - Kabupaten Brebes masih memiliki pekerjaan rumah terkait sampah. Pemkab setempat kini sedang berencana menggunakan gas metan dari sampah untuk menjadi bahan bakar alternatif.

Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah Kabupaten Brebes, melakukan penanganan terhadap sampah.

Penanganan sampah organik, selain dijadikan kompos juga bisa menghasilkan gas metan. Gas dari sampah organik ini nantinya akan dikembangkan menjadi bahan bakar alternatif pengganti gas elpiji bagi warga wasyarakat untuk keperluan masak.

"Potensi sampah di Brebes sangat tinggi, mengingat jumlahnya sangat banyak. Ini jika dikelola dengan benar akan bisa menjadi sesuatu yang berguna. Sampah organik ini bisa menghasilkan kompos dan gas metan. Manfaatnya sama seperti gas elpiji," ujar Edi Kusmartono, saat ditemui di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Gandasuli, Rabu (6/12/2017) siang.

Sampah yang terkumpul, mula-mula dipisahkan antara plastik dan yang organik. Sampah organik ini dicacah menjadi bagian-bagian yang kecil.

Setelah tercacah secara merata, sampah organik ini dimasukkan dalam tabung untuk difermentasi. Untuk proses pembusukkan ini, biasa menggunakan konsentrat bakteri EM4. Dalam waktu tiga hari, tabung penampungan ini sudah dipenuhi oleh gas metan. Sementara, setelah mengalami proses pembusukkan, kompos ini siap digunakan untuk keperluan pertanian dan perkebunan.

"Saat ini yang TPST masih terbatas jumlahnya. Nantinya, pemerintah akan kembangkan pengolahan sampah terpadu di tiap daerah yang mudah terjangkau masyarakat, agar mereka bisa menikmati gas metan. Gas ini sama persis dengan elpiji dan mudah digunakan," tambah Edi.

Ke depan, dengan makin banyaknya TPST, pipa gas metan ini bisa disalurkan ke rumah rumah warga. Namun, Edi berharap warga harus mendukung suksesnya program pemerintah sampah mandiri. Dengan mereka secara rutin mengumpulkan sampah di TPST maka akan sangat membantu penyelesaian problem sampah di daerah ini.

Sementara itu, Edi melanjutkan, sampah non organik bisa diolah menjadi solar oktan tinggi. Pengolahan sampah dari plastik ini diawali dengan pemisahan dari bahan organik. Plastik sudah dipisahkan, diangkut dengan mesin conveyor dan dibersihkan lalu dikeringkan. Setelah kering dimasukkan ke tungku pemanas atau reaktor.

Di dalam reaktor itu, sampah dipanaskan dengan suhu sekitar 300 derajat celsius menggunakan serpihan sampah kayu dan kertas. Dari tahapan ini, dihasilkan solar beroktan tinggi. Sampah plastik ini bisa diolah menjadi minyak karena plastik terbuat dari minyak bumi.

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Gandasuli, Brebes.Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Gandasuli, Brebes. Foto: Imam Suripto/detikcom


Unsur plastik sama persis dengan unsur minyak bumi yaitu hydrokarbon, yaitu senyawa yang terdiri dari hydrogen dan karbon. Hanya saja plastik sudah melalui proses tertentu sehingga senyawa plastik berpolimer membentuk unsur yang mudah dibentuk sesuai dengan keinginan.

"Dengan alat hasil pengolah sampah itu, cukup efektif dalam mengurangi timbunan sampah plastik. Satu kwintal sampah plastik menghasilkan solah sekitar 40 liter," terangnya.

Meski belum dipasarkan, solar hasil olahan ini sementara dipakai untuk operasional kendaraan pengangkut sampah sehingga kebutuhan BBM angkutan sampah tidak perlu membeli. Seluruh mesin pengolah sampah juga sudah ganti bahan bakar hasil olahan sampah.
(sip/sip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed