DetikNews
Kamis 23 November 2017, 08:59 WIB

Cerita Warga Demak Sembunyi di Septictank Saat Dikejar KKB di Papua

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Cerita Warga Demak Sembunyi di Septictank Saat Dikejar KKB di Papua Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
semarang - Warga Jawa Tengah yang menjadi korban penyanderaan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua mengaku takut berkomunikasi dengan keluarga karena nyawa taruhannya. Mereka juga banyak mengalami kekerasan bahkan ada yang dikejar hingga harus sembunyi seharian di septictank.

Nuryanto (46) warga Desa Kedondong, Demak mengatakan mereka dikumpulkan di Kampung Longsoran, Kimberly, Mimika. Perlakuan kasar diterima beberapa orang dengan dipukul, ditendang, dan ditodong senjata laras panjang. Muryanto dan lainnya pun ketakutan bahkan untuk mengabari keluarga mereka di Demak pun mereka tidak berani.

"Sebenarnya ada bantuan tapi tidak sampai. Dijaga ketat OPM. Ya kami makan apa adanya. Disandera 29 hari," kata Nuryanto di ruang VIP Bandara Ahmad Yani Semarang.

Jika ada kesempatan, Nuryanto akan memberi kabar keluarga lewat SMS dengan bahasa Jawa. Jika sudah selesai mengirim maka riwayat pengiriman akan segera dihapus karena jika ketahuan maka nyawa taruhannya.

"SMS pakai bahasa Jawa, selesai hapus. Kalau ketahuan habis kita. Mereka jumlahnya banyak," pungkas Nuryanto.

Sementara itu, warga Demak lainnya, Slamet Riyadi (26) bahkan harus bersembunyi di septictank karena dikejar satu orang dari KKB dengan membawa senapan. Slamet dikejar karena perawakannya tegap mirip TNI atau Polri.

"Itu pas hari kedua, malam, saya dikejar 1 orang pakai senjata laras panjang. Ditembakkan sekali," kata Slamet.

Karena gelap, Slamet mengira benda didepannya merupakan kandang ayam yang bisa digunakan untuk sembunyi. Ternyata ketika berusaha masuk benda mirip kandang ayam tersebut, ia justru terperosok ke kubangan kotoran.

"Saya kira kandang ayam, ternyata septictank. Terendam segini (menunjuk pinggang)," ujar Slamet.

Slamet menunggu sampai pagi di lokasi itu hingga akhirnya sekitar pukul 07.00 pagi ia memberanikan diri keluar karena tahu KKB tidak berkeliaran di sana saat pagi.

"Setelah keluar saya pingsan. Saya ditolong karena teman-teman pada cari. Kalau pagi mereka (KKB) tidak berkeliaran," imbuh Slamet.

Kini mereka sudah bisa bernafas lega setelah diselamatkan oleh TNI-Polri dan dipulangkan oleh Pemprov Jateng ke daerah asal. Sebanyak 38 warga Demak dan 5 warga Rembang yang tiba di Bandara Ahmad Yani Semarang dan diantarkan ke daerah masing-masing menggunakan bus.
(alg/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed