detikNews
Senin 02 Oktober 2017, 17:50 WIB

Hari Batik Nasional

Susahnya Produk Batik Tradisional Jajaki Pasar Digital

Bayu Ardi Isnanto - detikNews
Susahnya Produk Batik Tradisional Jajaki Pasar Digital Pembatik di Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Solo - Persaingan di dunia perdagangan semakin ketat, tak terkecuali kerajinan batik. Para pengusaha batik tradisional di Solo kini menjajaki media digital untuk memasarkan produknya. Namun bukan hal mudah. Seperti apa kendalanya?

Pengurus Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Surakarta, Gunawan Setiawan, mengatakan pemasaran melalui media online memang harus dilakukan. Namun saat ini, jumlah transaksi online masih belum signifikan.

"Transaksi sudah ada, tapi belum bisa diandalkan. Beralih dari penjualan tradisional ke digital tentu tidak semudah membalikkan tangan. Tapi saya yakin ini masih proses," katanya, Senin (2/10/2017).

Menurutnya, penjualan produk batik (tulis dan cap) masih dicitrakan dengan harga mahal. Masyarakat pun lebih banyak memilih tekstil bermotif batik (batik printing).

"Kalau kita lihat di toko online itu rata-rata harganya murah karena batik printing. Padahal sebetulnya batik tulis dan cap itu terjangkau, kalau dilihat dari kualitasnya," tuturnya.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh pedagang pakaian berbasis toko online. Seorang pedagang, Wulan Arie, mengatakan pangsa pasar online saat ini lebih berminat terhadap batik printing.

"Sebenarnya bisa laku, tapi susah, karena harganya masih dinilai mahal. Sedangkan batik printing bisa dijual jauh di bawahnya," ujar Wulan yang sudah berdagang dengan sistem online sekitar 7 tahun.

Menurutnya, pembeli akan berpikir beberapa kali untuk mengeluarkan lebih banyak uang, sedangkan mereka tidak melihat langsung perbedaan antara batik tulis, cap, atau printing.

"Sekarang yang penting gambarnya bagus, harganya murah, bisa laku," tutupnya.
(mbr/mbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com