DetikNews
Jumat 22 September 2017, 18:56 WIB

Mentan Amran Bangun Irigasi dan Embung untuk Atasi Kekeringan

Edzan Raharjo - detikNews
Mentan Amran Bangun Irigasi dan Embung untuk Atasi Kekeringan Foto: Edzan Raharjo/detikcom
Yogyakarta - Kekeringan melanda sejumlah daerah di Indonesia. Kekeringan tersebut tentu berdampak pada tanaman pertanian yang membutuhkan suplai air.

Untuk mengatasi kekeringan, Kementerian Pertanian sudah membangun irigasi seluas 3 juta hektar, normalisasi sungai, bendungan dan embung.

Kekeringan memang ada. Tetapi dampaknya tidak seperti yang dibayangkan seperti sebelumnya. Dampak kekeringan sudah diantisipasi jauh sebelumnya," ungkap Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjawab pertanyaan wartawan di Yogyakarta, Jumat (22/9/2017).

Dia mengatakan salah satu hal yang telah dilakukan yaitu sudah membangun irigasi seluas 3 juta hektar, normalisasi sungai dan bendungan, pompanisai dan membangun embung untuk menampung air.

"Ada kekeringan iya, karena ini butuh waktu untuk menyelesaikan tanah tadah hujan yang luasnya separuh seluruh Indonesia," kata Amran di acara KTNA Expo dan Rembug Utama dalam Rangka Hari Jadi KTNA Ke-46 di Jogja Expo Center (JEC).

Dia mengatakan saluran irigasi telah dibangun di seluruh Jawa dan luar Jawa dengan pembangunan dan normalisasi irigasi. Irigasi yang terairi sudah meningkat menjadi 4,7 juta. "Itu artinya aman dari kekeringan yang berada pada daerah irigasi," katanya.

Menurutnya dampak dari kekeringan kemungkinan juga menyebabkan tanaman puso atau gagal panen. Jika ada tanaman puso yang terpenting jangan di atas ambang batas. Menurutnya, sebelumnya ada hama dan kekeringan dan setelah dihitung-hitung lagi sekitar 0,4% saja, sehingga masih aman.

"Mungkin ada ya, (tanaman puso) tetapi tidak terlalu signifikan. Dan itu nanti ke depan solusinya adalah bangun embung. Supaya tidak ada lagi terjadi kekeringan," katanya.

Dia juga punya mimpi agar ke depan menjadikan lahan tadah hujan semuanya bisa teraliri. Solusinya adalah dengan membangun embung, membangun sumur dangkal, sumur dalam kemudian embung-embung kecil di seluruh wilayah tadah hujan.

Dengan begitu air hujan yang jatuh bisa dimanfaatkan di recycle yang tidak hanya dimanfaatkan sekali tetapi bisa 2-3 kali. Embung-embung tersebut sudah dibangun sejak 2 tahun terakhir dan pada 2016-2017 sudah terbangun 30 ribu unit.

"Kalau ini kita bisa dilakukan, Insya Allah lumbung pangan di Indonesia 2045 bisa jadi kenyataan," pungkas dia.
(bgs/bgs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed