DetikNews
Rabu 13 September 2017, 20:44 WIB

Selokan Mataram di Yogya Sarat Nilai Sejarah Justru Dipenuhi Sampah

Usman Hadi - detikNews
Selokan Mataram di Yogya Sarat Nilai Sejarah Justru Dipenuhi Sampah Foto: Usman Hadi
Yogyakarta - Selokan Mataram yang membelah wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki nilai sejarah yang penting. Selokan yang dibangun pada masa Jepang ini atas prakarsa Raja Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sultan HB IX waktu itu membuat selokan Mataram agar rakyat Yogyakarta terhindar dari kerja paksa oleh tentara Jepang.

"Itu (dibangunnya Selokan Mataram) adalah jasa dari HB IX, agar warganya tidak ikut romusha," kata Dosen Sejarah di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Silverio R L Aji Sampurno saat berbincang dengan detik.com, Rabu (13/9/2017) malam.

Jepang pada masa itu membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun di berbagai daerah. Proyek tersebut terutama untuk memperkuat kedudukan mereka di nusantara, terlebih dalam menghadapi pihak sekutu yang sewaktu-waktu menyerang.

Agar rakyat Yogyakarta tidak dipekerjakan sebagai romusha di berbagai daerah, akhirnya Sri Sultan HB IX berinisiatif membuat selokan tersebut. Usaha itu membuahkan hasil, sehingga rakyat Yogyakarta terhindar dari kerja paksa.

"Waktunya tepat, salah satunya karena untuk memenuhi cita-cita leluhur dalam usaha menyatukan Kali Progo dan Kali Opak. Selain itu agar tidak bekerja romusha di daerah lain," jelasnya.

Dia menerangkan, dibangunnya Selokan Mataram juga tidak bisa dilepaskan dari keyakinan bahwa wilayah Mataram suatu saat akan makmur. Syaratnya Kali Progo di sebelah barat dengan Kali Opak di sebelah timur disatukan.

"Makanya Selokan Mataram itu punya nilai historis yang tinggi, dan memang selokan ini memiliki manfaat besar untuk rakyat. Persawahan di daerah utara akhirnya tidak kekurangan air lagi, karena selokan ini dimanfaatkan untuk irigasi," katanya.

Sebagai proyek yang diusulkan Sultan, pendanaan proyek tersebut murni menggunakan dana keraton. Selokan sepanjang 31,2 kilometer tersebut berhasil dibangun. "Pekerja (pembangunan Selokan Mataram) juga diupah," paparnya.

Namun dengan nilai sejarah yang begitu besar itu, faktanya di Selokan Mataram saat ini justru banyak dijumpai tumpukan sampah. Tentu ini menjadi ironi, sebab peninggalan HB IX yang begitu bersejarah ini tidak dirawat dan diperlakukan dengan bijak oleh warga Yogya sendiri.

"Itu karena sebagian besar mental masyarakat kita belum sadar lingkungan. Jadi tidak ada kaitannya dengan benda atau tempat itu bersejarah atau tidak. Prinsip mereka (yang membuang sampah ke Selokan Mataram) 'yang penting halamanku bersih'," pungkasnya.
(bgs/bgs)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed